INFO PASANG IKLAN
"Pasang iklan harga terjangkau, Laku barangta beramalki juga". Minat, Hubungi Manajer Iklan Dhadhe 085342448624 atau PIN BB 2931CE74
Popular Posts
-
Hadisaputra, M.Si,dan Nurhikmawaty Hasbiah bersama Ketua PWM Sulsel, Dr Muh Alwi Uddin (foto:ist)
-
Opini Oleh : Nur Faizah Anshar Korupsi, sebuah kata yang tentu tak asing lagi bagi kita. Di semua pemberitaan baik media elektronik maup...
-
Aksi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Rabu, 20 Mei 2015(Foto:fb)
-
Syaharaddin Alrif, S. Sos (Foto : ist) Syaharuddin Alrif akhirnya ditetapkan sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjend) Pimpinan Pusat...
-
Logo Musykom IMM FKIP Unismuh Makassar, Khittah - Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Keguruan dan Ilm...
CB Magazine »
Tarbiyah
,
Tokoh
»
H. KURAISY DJAILANI, Ketua Termuda yang Pernah Memimpin Muhammadiyah Sulawesi Selatan
H. KURAISY DJAILANI, Ketua Termuda yang Pernah Memimpin Muhammadiyah Sulawesi Selatan
Ketua Muhammadiyah Sulsel dari Masa ke masa (Bagian 3)
H.
KURAISY DJAILANI:
“Ketua Termuda yang Pernah Memimpin Muhammadiyah
Sulawesi Selatan”
Ketua
Muhammadiyah Sulawesi Selatan 1957-1966
Haji Kuraisy Djailani
dilahirkan di Bantaeng pada tanggal 22 Februari 1920. Dia
adalah satu-satunya laki-laki dari enam orang bersaudara anak dari pasangan Djailani dan Hj.
Indo Ugi. Setelah dewasa,
dia menikah dengan Hajjah Sitti Maemunah.
Dari pernikahannya itu, mereka dikarunia Allah Rabbul
Alamin empat orang putera
dan dua orang puteri.
Haji
Kuraisy Djailani terpilih menjadi Ketua Pimpinan Muhammadiyah Daerah Sulawesi
Selatan dan Tenggara pada tahun 1957. Ketika
itu, usianya baru 37 tahun. Dia menggantikan Haji
Andi Sewang Daeng Muntu. Dia menjadi ketua Pimpinan Muhammadiyah Daerah Sulawesi
Selatan dan Tenggara hingga tahun 1966.
Pada bagian akhir
kepemimpinannya di Persyarikatan
Muhammadiyah,
bangsa Indonesia berada dalam keadaan yang serba tidak menentu. Presiden
Republik Indonesia Soekarno memberi peluang terlalu besar kepada Partai Komunis
Indonesia (PKI) untuk berkuasa. Akibatnya pada tanggal 30 September 1965
terjadi percobaan kudeta yang didalangi PKI.
Akibat dari kudeta
yang gagal itu, terjadilah gejolak sosial yang memaksa para pemuda dan segenap
komponen bangsa yang anti komunis turun ke jalan berdemonstrasi meminta PKI
dibubarkan. Gerakan ini dipelopori oleh pelajar yang tergabung dalam Kesatuan
Aksi Pelejar-pelajar Indonesia (KAPPI) dan para mahasiswa yang tergabung dalam
Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Di kemudian hari, para pelaku gerakan
yang akhirnya meruntuhkan Orde Lama yang dipimpin oleh Soekarno dan melahirkan
Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto ini dikenal dengan nama Angkatan 66.
Muhammadiyah
Sulawesi Selatan yang dipimpin Haji Kuraisy Djailani tentu tidak dapat
melepaskan diri dari tanggung jawabnya sebagai salah satu komponen bangsa yang
selalu tampil sebagai pelopor. Untuk itu maka segera setelah terbentuknya di
tingkat pusat, di tingkat wilayah pun segera dibentuk.
Sebagai Ketua
Pimpinan Muhammadiyah Wilayah, Haji Kuraisy Djailani adalah koordinator
sekaligus penanggung jawab tertinggi Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda
Muhammadiyah (KOKAM). Dalam kapasitas sebagai koordinator dan penanggung jawab
tertinggi KOKAM inilah sehingga dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk
melakukan pertemuan dengan semua pihak dan melakukan kordinasi dengan sesama
pimpinan Muhammadiyah (termasuk ortom-nya, serta melakukan kunjungan ke daerah-daerah, baik yang dilakukan sendiri
maupun mendampingi pejabat. Dikabarkan bahwa Panglima Kodam XIV Hasanuddin,
Solihin GP merasa tidak afdal berkunjung ke
daerah kalau tidak tidak didampingi
oleh Haji Kuraisy Djailani.
Dalam kaitan dengan kunjungan ke
daerah-daerah inilah, Kuraisya Djailani pernah memperlihatkan betapa tinggi
perhatian dan baktinya kepada Ibunya. Telah menjadi kebiasaan baginya, meminta
izin kepada Ibunya tatkala hendak ke luar kota. Suatu waktu, dia lupa meminta
izin kepada Ibunya. Dia baru teringat, setelah perjalanannya ke daerah sudah
jauh meninggalkan kota Makassar. Dia terpaksa kembali dulu ke rumah orang
tuanya untuk pamit dan minta izin kepada Ibunya. Menurutnya, rasa hormatnya yang
demikian besar kepada Ibunya, itu merupakan pantulan dari rasa hormat yang
diperolehnya dari semua kalangan. Oleh karena itu, maka semestinya, makin tinggi
kedudukan seseorang, makin tinggi pula
rasa hormatnya kepada kedua orang tuanya.
Menurut Ahamad
Malik Sya’ban, salah satu dari keistimewaan kepemimpinan
Kuraisy Djailani adalah
kemampuannya
mempertautkan berbagai keinginan untuk diramu ke dalam sebuah adonan dengan
sebuah hasil nyaman untuk semua.
Dia juga dikenal sabar dan tabah mengahadapi situasi segmenting apa pun juga.
Diceritrakan bahwa
suatu ketika dia pernah dimarahi oleh Walikota Makassar, Haji Muhammad Daeng
Patompo. Ketika itu Generasi Muda Islam (GEMUIS) dideklarasikan pendiriannya di
Makassar dan Haji Muhammad Daeng Patompo adalah salah seorang deklaratornya.
Dan, Oleh karena berbagai macam pertimbangan,
Muhammadiyah tidak turut serta di
dalamnya, bahkan dukungan pun tidak diberikannya.
Mengetahui hal itu, Haji Muhammad Daeng Patompo
tidak kuasa menahan diri dan pada malam
harinya, dia segera ke rumah Haji Kuraisy Djailani di jalan
Manggis No. 5. Mulai dating sampai pulang, Haji Muhammad Daeng Patompo ngomel dan marah terus.
Sementara itu, Haji Kuraisy Djailani diam terus, tak satu patah kata pun keluar
dari mulutnya. Menurtnya, melayani kemarahan sama saja
dengan menggali lubang pertengkaran dan
hal itu harus dihindari. Boleh jadi karena sikap Haji Kuraisy Djailani yang memilih diam itu,
sehingga keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Haji Muhammad Daeng Patompo datang
lagi ke rumahnya, tapi kali ini bukan lagi untuk ngomel dan marah-marah
melainkan untuk meminta maaf atas ulahnya semalam.
Setelah masa-masa kritis dalam
kepemimpinannya terlewatkan dengan dibubarkannya PKI pada tanggal 10
Maret 1966, Haji Kuraisy Djailani jatuh
sakit. Boleh jadi, disebabkan oleh keletihan dan kurang
istirahat selama empat bulan terakhir, sehingga kesehatannya tiadak dapat dipulihkan kembali. Dia akhirnya
meninggal dunia pada malam tanggal 19 Maret 1966
dalam usia 46 tahun. (*)
*Ditulis oleh Dr KH Mustari Bosra, Wakil Ketua PW Muhammadiyah Sulsel dan Dosen Sejarah Universitas Negeri Makassar.

Tidak ada komentar: