H. KURAISY DJAILANI, Ketua Termuda yang Pernah Memimpin Muhammadiyah Sulawesi Selatan

Ketua Muhammadiyah Sulsel dari Masa ke masa (Bagian 3)

H. KURAISY DJAILANI:
“Ketua Termuda yang Pernah Memimpin Muhammadiyah Sulawesi Selatan”
Ketua Muhammadiyah Sulawesi Selatan 1957-1966


            Haji Kuraisy Djailani dilahirkan di Bantaeng pada tanggal 22 Februari 1920.  Dia adalah satu-satunya laki-laki dari enam orang bersaudara anak dari pasangan Djailani dan Hj. Indo Ugi. Setelah dewasa, dia menikah dengan Hajjah Sitti Maemunah. Dari pernikahannya itu, mereka dikarunia Allah Rabbul Alamin empat orang putera dan dua orang puteri.
            Haji Kuraisy Djailani terpilih menjadi Ketua Pimpinan Muhammadiyah Daerah Sulawesi Selatan dan Tenggara pada tahun 1957. Ketika itu, usianya baru 37 tahun. Dia menggantikan Haji Andi Sewang Daeng Muntu. Dia menjadi ketua Pimpinan Muhammadiyah Daerah Sulawesi Selatan dan Tenggara hingga tahun 1966.
Pada bagian akhir kepemimpinannya di Persyarikatan  Muhammadiyah, bangsa Indonesia berada dalam keadaan yang serba tidak menentu. Presiden Republik Indonesia Soekarno memberi peluang terlalu besar kepada Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk berkuasa. Akibatnya pada tanggal 30 September 1965 terjadi percobaan kudeta yang didalangi PKI.
Akibat dari kudeta yang gagal itu, terjadilah gejolak sosial yang memaksa para pemuda dan segenap komponen bangsa yang anti komunis turun ke jalan berdemonstrasi meminta PKI dibubarkan. Gerakan ini dipelopori oleh pelajar yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Pelejar-pelajar Indonesia (KAPPI) dan para mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Di kemudian hari, para pelaku gerakan yang akhirnya meruntuhkan Orde Lama yang dipimpin oleh Soekarno dan melahirkan Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto ini dikenal dengan nama Angkatan 66.
Muhammadiyah Sulawesi Selatan yang dipimpin Haji Kuraisy Djailani tentu tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawabnya sebagai salah satu komponen bangsa yang selalu tampil sebagai pelopor. Untuk itu maka segera setelah terbentuknya di tingkat pusat, di tingkat wilayah pun segera dibentuk.
Sebagai Ketua Pimpinan Muhammadiyah Wilayah, Haji Kuraisy Djailani adalah koordinator sekaligus penanggung jawab tertinggi Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM). Dalam kapasitas sebagai koordinator dan penanggung jawab tertinggi KOKAM inilah sehingga dia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan pertemuan dengan semua pihak dan melakukan kordinasi dengan sesama pimpinan Muhammadiyah (termasuk ortom-nya, serta melakukan kunjungan  ke daerah-daerah, baik yang dilakukan sendiri maupun mendampingi pejabat. Dikabarkan bahwa Panglima Kodam XIV Hasanuddin, Solihin GP merasa tidak afdal berkunjung ke daerah kalau tidak tidak didampingi oleh Haji Kuraisy Djailani.
Dalam kaitan dengan kunjungan ke daerah-daerah inilah, Kuraisya Djailani pernah memperlihatkan betapa tinggi perhatian dan baktinya kepada Ibunya. Telah menjadi kebiasaan baginya, meminta izin kepada Ibunya tatkala hendak ke luar kota. Suatu waktu, dia lupa meminta izin kepada Ibunya. Dia baru teringat, setelah perjalanannya ke daerah sudah jauh meninggalkan kota Makassar. Dia terpaksa kembali dulu ke rumah orang tuanya untuk pamit dan minta izin kepada Ibunya. Menurutnya, rasa hormatnya yang demikian besar kepada Ibunya, itu merupakan pantulan dari rasa hormat yang diperolehnya dari semua kalangan. Oleh karena itu, maka semestinya, makin tinggi kedudukan seseorang, makin tinggi pula  rasa hormatnya kepada kedua orang tuanya.
Menurut Ahamad Malik Sya’ban, salah satu dari keistimewaan kepemimpinan Kuraisy Djailani adalah kemampuannya mempertautkan berbagai keinginan untuk diramu ke dalam sebuah adonan dengan sebuah hasil nyaman untuk semua. Dia juga dikenal sabar dan tabah mengahadapi situasi segmenting apa pun juga.
Diceritrakan bahwa suatu ketika dia pernah dimarahi oleh Walikota Makassar, Haji Muhammad Daeng Patompo. Ketika itu Generasi Muda Islam (GEMUIS) dideklarasikan pendiriannya di Makassar dan Haji Muhammad Daeng Patompo adalah salah seorang deklaratornya. Dan, Oleh karena berbagai macam pertimbangan, Muhammadiyah tidak turut serta di dalamnya, bahkan dukungan pun tidak diberikannya.
Mengetahui hal itu, Haji Muhammad Daeng Patompo tidak kuasa menahan diri dan pada malam harinya, dia segera ke rumah Haji Kuraisy Djailani di jalan Manggis No. 5. Mulai dating sampai pulang, Haji Muhammad Daeng Patompo ngomel dan marah terus. Sementara itu, Haji Kuraisy Djailani diam terus, tak satu patah kata pun keluar dari mulutnya. Menurtnya, melayani kemarahan sama saja dengan menggali lubang pertengkaran dan hal itu harus dihindari. Boleh jadi karena sikap Haji Kuraisy Djailani yang memilih diam itu, sehingga keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Haji Muhammad Daeng Patompo datang lagi ke rumahnya, tapi kali ini bukan lagi untuk ngomel dan marah-marah melainkan untuk meminta maaf atas ulahnya semalam.
Setelah masa-masa kritis dalam kepemimpinannya terlewatkan dengan dibubarkannya PKI pada tanggal 10 Maret 1966, Haji Kuraisy Djailani jatuh sakit. Boleh jadi, disebabkan oleh keletihan dan kurang istirahat selama empat bulan terakhir, sehingga kesehatannya tiadak dapat dipulihkan kembali. Dia akhirnya meninggal dunia pada malam tanggal 19 Maret 1966 dalam usia 46 tahun. (*)

*Ditulis oleh Dr KH Mustari Bosra, Wakil Ketua PW Muhammadiyah Sulsel dan Dosen Sejarah Universitas Negeri Makassar.

Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top