Karya : Syarief Kate

    Aku tak pandai berpuisi
    Aku pun tak bisa jadi orator ulung Tapi sanggup merangkai kata
    Goresan sederhana bagi aktifis Mahasiswa Indonesia

    Masihkah kita tidak sadar Indonesia sedang diujung tanduk? 
    Demokrasi diobok-obok, politik tidak stabil
    Aset bangsa dilelang
    Harga di PS-kan

    Wahai Mahasiswa bangunlah dari tidur panjangmu.
    Rakyat tak butuh style mu
    Mereka ingin gerakanmu untuk Indonesia lebih baik.
    Engkau Agen of change bukan agen of money

    Saatnya kita kuliah sedetik, semenit, sejam bahkan sehari di jalanan.
    Mari ukir sejarah yang lebih dahsyat dari 1998.

    Suara Mahasiswa,
    Suara perubahan
    Hidup Mahasiswa

    #IndonesiaBangkit #CabutMandatRakyat
    #SalamSepuluhJariPerubahan Indonesia
    #Suara Mahasiswa Dari Timur

    Karya : Esye Yusuf Lapimen
    (Sastrawan Muda Muhammadiyah)

    Ilustrasi Mahasiswa
    Ada Suara Memelas
    Kian Hari Kian Jelas
    Sampai ke Telinga si Buas
    Namun ia tetap menindas

    Ada juga jiwa-jiwa yang Tersentuh
    mereka menawarkan perlawanan
    Dengan Semangat bergelora
    Diteriakinya si buas, dihujat, dicaci
    Dan, si buas hanya ngakak

    Lalu si buas berkata;
    Saya pernah seperti itu
    Menjadikan suara sebagai peluru
    Kalian tahu?
    Suara itu ditelan angin

    Gerakan kalian, mesti disofware
    Disesuaikan fenomena zaman

    Sambil berlalu, si buas berseloroh;
    Saya hanya takut, jika kalian melawan saya dengan tulisan.

    Hari memanas
    Hati mengganas
    Jangan jadi tak jelas

    Pernahkah kau melihat hujan?
    Merasakan tiap tetesnya?
    suhu dinginnya?
    gemuruh petirnya?

    Jika ya, maka nikmatilah paket itu!
    Karena tanpa hujan kita bisa melihat pelangi..
    Karena hujan ruang rindu bisa hadir disela-sela berteduh..
    Karena tanpa hujan kau takkan mampu menuliskan nama seseorang dibalik embunnya..

    karena hujan tangismu akan selalu tertutupi..
    karena hujan semua disatukan ..
    Dan, karena hujan kupandangi bayangmu sedang menikmati riak hujan diantara temaran lampu..
    dan karena hujan aku ingin berucap tahlil syukur kepadaNya...

     Jaktim, 19 November 2014

    Rahma idrus


    Tak terkecuali satu hal, bahwa kau kujumpai seperti batu pasir merah dari Fatehfur Sikri. Memerah harapanku nyaris punah dan luluh disapu sedih. Dan kutemui hatimu dalam keadaan yang bukan mereka.

    Kau adalah airmata penghapus dosa dan bukan suatu kesedihan di relung terluka.
    Sudah cukup paham kuping ini. Lalu, kututup dari mereka membahasakanmu ragu.
    Matamu sehitam malam olehnya kusebut kau Laila. Akibatnya, apapun itu, leleh senyummu umpama air bersih berurai merindu kaki-kaki hilangkan lumpur negeri ini.
    Lenyapkan aroma busuk menumpuk sengak menusuk disemua tentangmu.

    Aku dan diriku telah menerimanya. Telah terkesiap melawan letih.
    (Kau) permohonan maaf sekalipun berkali-kali tersambut hangat.
    Usai tanpa keluh bercampur dendam.

    Makassar-Bulukumba, 2014
    Al-Fian Dippahatang





    Syarief Kate (IPM Sinjai Selatan 2005)














    Wanita itu lembut.
    Pujian dan kata baik dapat menjatuhkan perhatiannya
    Wanita itu sensitif
    Bisa menjadi pendendam
    Bila hobi mengumbar mempermainkan hatinya.
    Jika ingin wanita baik-baik mendampingimu kelak
    Berusalah menjaga dirimu dari godaan wanita
    Suatu janji yang tidak ditepati kepada wanita
    Kata-kata yang engkau ucap bukan lagi kebenaran di matanya.
    Waktu berlalu dan menggantikannya yang lebih baik
    Perlakukan wanita seperti engkau bersikap terhadap ibumu

    ,


    Oleh: Zulfikar Hafid
    Bahasa  yang tidak bebas atas klaim ‘bagus’ dan ‘tidak bagus’, ‘indah’ dan  ‘tidak indah’, serta ‘ilmiah’ dan ‘tidak ilmiah’, terlanjur menjadi doxa di masyarakat. Bahasa berupa rangkaian kalimat atau wacana (teks), akhirnya, ada yang diterima gagasannya, ada juga yang tidak berpengaruh sama sekali. Klaim-klaim ini didasarkan pada standar ketetapan masyarakat, yang standar ini seolah-olah telah disepakati secara sadar oleh seluruh pihak. Demikianlah Doxa,  keberlakuan sudut pandang pihak dominan, sementara sudut pandang ini seakan-akan merupakan sudut pandang universal yang disadari (Haryatmoko, 2010: 163).

    Doxa dan kontra-doxa dalam bahasa dan kepenulisan dihadirkan oleh Haruki Murakami. Hal ini saya simpulkan dari interpretasi saya sebagai pembaca atas novel pertamanya, Dengarlah Nyanyian Angin (2013) yang pertama kali diterbitkan pada tahun  1979. Dalam novel ini, atau setidaknya hanya pada novel ini, Murakami berusaha menenangkan para penulis yang dalam keberlangsungan kegiatan menulisanya sangat dekat dengan keputusasaan. Keputusasaan karena tulisan-tulisan yang dihadirkannya jauh dari penilaiaan baik dan keputusasaan karena kata hingga paragraf yang dituliskannya jauh dari doxa bahasa yang berlaku. Upaya penenangan oleh Murakami ini, saya nilai sebagai tindakan kontra-doxa.
    Kontra-doxa yang dihadirkan oleh Murakami sebagai upaya penenangan tersebut, menurut saya, salah satunya terlihat pada pengangkatan keterobsesian sosok Aku pada penulis Amerika yang karya-karyanya dianggap tidak sampai pada doxa sebuah karya tulis-baik oleh khalayak. Dialah Derek Heartfield, Penulis Amerika yang karyanya selalu dinilai biasa-biasa saja, bahkan dinilai  buruk (hal. 2). Murakami juga menghadirkan Aku sebagai sosok yang ingin sekali menjadi penulis-sesuai doxa, namun selalu ‘terasa’ gagal.  Selain itu, kontra-doxa juga terlihat pada penghadiran upaya Aku untuk menjadi penulis sesuai-doxa, namun Si Aku hanya membuat sebuah catatan berjilid dengan garis tengah di tengah-tengah halamannya, dan  dalam catatan itu hanya ada amanat cerita, itu pun dalam jumlah yang sedikit (hal. 6).   
    Murakami juga menghadirkan sosok Nezumi, teman karib Aku, yang berniat untuk menulis sebuah novel, namun ia telah lama tidak pernah lagi membaca buku. Fenomena Nezumi ini bertentangan dengan pahaman umum bahwa ‘banyak membaca buku, maka kita akan kaya bahan dalam menulis’. Doxa pembacaan buku yang banyak memang dibutuhkan, terlebih jika yang ingin ditulis adalah novel. Untuk babak ini, saya nilai dikontra-doxa-kan juga oleh Murakami. Doxa ini, akhirnya, menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa, dalam hal ini kemampuan literasi, benar-benar tidak hanya pelatihan biasa. Untuk kemampuan literasi (berbahasa) dibutuhkan fasilitas, dalam hal ini buku bacaan yang seringkali harus dibeli, dan pembelian ini tentu membutuhkan kapital (Haryatmoko, 2010: 164).  
    Murakami yang semula saya nilai (klaim) sebagai penghadir fenomena-fenomena yang kontra-doxa, harus saya batasi dengan tegas, bahwa ia sebenarnya tidak sedang melakukan resistensi terhadap doxa. Menurut saya, berbeda atau bertentangan dengan doxa belum tentu berarti seseorang sedang melakukan resistensi. Begitu juga pada Murakami. Resistensi ini  memang terlihat tidak dilakukan oleh Murakami, karena bagaimana pun ia menghadirkan fenomena-fenomena kepenulisan Si Aku dan Nezumi yang kontra-doxa, toh Murakami tetap menghadirkan Aku yang menyukai membaca buku, terlebih buku terjemahan sastrawan-sastrawan dunia yang fenomena tersebut sesuai dengan doxa. Nezumi pun belakangan mengikuti habitus membaca buku Si Aku, pasca pelontaran niatnya untuk menulis novel, dan diskusi mereka yang melahirkan kritik terkait alur dan cerita novel Nezumi.
    Penghadiran babak habitus membaca buku Si Aku dan  tersebut sebenarnya memang merupakan kebertentangan dengan klaim saya semula, bahwa Murakami kontra-doxa. Oleh karena itu, tepatlah penilaian saya bahwa Murakami memang tidak melakukan resitensi terhadap doxa. Resistensi atas doxa di luar ranah kepenulisan yang tidak dilakukan Murakami, toh terlihat pada penghadiran produk-produk asing, baik makanan, musik, film, sampai ‘habitus’ (gaya hidup). Oleh karena itu, sekali lagi, saya tegaskan penilaian saya, bahwa Murakami hanya menghadirkan kontra-doxa, tidak melakukan resistensi atau menolak semua doxa yang bernilai kekerasan simbolik versi Bourdieu.
    Akan tetapi, usaha Murakami untuk menghabituasi literasi, terlepas dari penurut doxa-kah atau kontra dan resistensi-doxa­-kah Murakami, seperti yang saya klaim sebelumnya,  harus disaluti. Kekerasan simbolik ala Bourdieu yang hadir dalam tampakan  atas relasi bahasa dan kekuasaan Murakami melalui kosa kata dan diskursusnya, terlihat dari  upayanya melakukan dominasi terselubung atas habitus literasi masyarakat. Murakami, menurut interpretasi saya, menghadirkan Derek Heartfield, penulis yang karya-karya literasinya dinilai berplot berantakan, kalimat yang susah dipahami, dan tema yang dadais,   adalah usaha Murakami untuk menenangkan para pengusaha karya literasi untuk tidak pesimis atas tulisannya. Dominasi atau habituasi literasi oleh Murakami juga terlihat dari penghadiran habitus baca buku atau perbincangan mengenai buku dalam beberapa kali. Hal ini, menurut saya, adalah wujud upaya dominasi doktrinal yang bertujuan untuk habituasi. Kekerasan simbolik, dominasi, atau habituasi doktrinal ini terlihat misalnya pada babak:

    “Bagiku, menulis kalimat adalah pekerjaan yang menyakitkan. Aku pernah tidak menulis sebaris kalimat pun dalam sebulan. Pernah pula  aku menulis tida hari tiga malam berturut-turut, tapi akhirnya semua kalimat itu ngawur... Menulis juga menjadi pekerjaan yang menyenangkan. Karena membubuhkan makna pada semua kalimat terasa lebih mudah jika dibandingkan dengan kesulitan hidup... Seandainya bersikap pintar sedikit saja, dunia bisa kuatur sesukaku, segala macam nilai akan berubah, dan waktu pun akan mengganti alirannya... (hal. 5)”

    Penghadiran kalimat-kalimat doktrinal juga terlihat pada kalimat “Selama punya sikap untuk mau belajar dari berebagai hal, maka menjadi tua tentu tidak akan begitu terasa menyakitkan (hal. 1).“  Kalimat ini dihadirkan ketika Murakami mengisahkan tokoh Aku yang selalu dilanda keputusasaan setiap akan menulis sesuatu. Keputusasaan Aku selama delapan tahun, yang hadir karena setiap menulis, ia hanya bisa menuliskan ruang lingkup yang terbatas. Kalimat doktrinal lainnya juga hadir dengan kutipan atas kalimat seorang penulis, “Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti keputusasaan yang sempurna.” Kalimat-kalimt tersebut saya klaim sebagai upaya dominasi, habituasi, atau kekerasan simbolik Murakami atas habitus literasi, agar seluruh manusia, terkhusus pembaca karyanya, dapat membangun tradisi literasi.  
    Murakami juga berhasil menghadirkan bukti bahwa setidaknya, satu buku yang pernah dibaca bisa menjadi landasan kita untuk menulis. Hal ini terlihat pada babak yang mengisahkan diskusi Aku dan Nezumi tentang bacaan mereka yang membuat Nezumi berniat untuk menulis novel. Meski babak ini harus saya akui kembali membantah pernyataan saya sebelumnya, tapi, kedua pernyataan saya atau klaim saya ini, saya pikir kedua-duanya tepat. Satu sisi, Murakami menghadirkan babak ini untuk menunjukkan bahwa kita memang harus membaca sebagai dasar atau landasan, di sisi lain, Murakami juga menunjukkan bahwa untuk memulai, tidak membaca banyak buku pun bisa menjadi ‘legalitas’ untuk menulis.
    Alhasil, dari perbincangan Aku dan Nezumi tentang alasan membaca buku dan diskusi-kritis atas cerita novel, Nezumi akhirnya menjadi seorang penulis novel yang aktif. Ini dikisahkan pada bagian akhir. Babak ini semakin meyakinkan saya bahwa Murakami memang berupaya memertahankan penulis-penulis yang selalu merasa gagal agar tetap menulis, meski awalnya, ia jarang membaca atau sedikit membaca buku, atau telah lama meninggalkan kebiasaan membaca buku.
    Intinya, saya berpikir bahwa sebenarnya yang dihadirkan oleh Murakami adalah pengabaian doxa (kontra-doxa) untuk sementara, yang nantinya akan membawa penulis dan karyanya menjadi sesuai doxa. Hal ini, sekali lagi, saya nilai sebagai upaya penyelamatan Murakami atas para penulis yang selalu dihantui oleh ketakutan pada doxa. Doxa atas bahasa, doxa atas tulisan. Ini wajar, hukum yang sepertinya sudah pasti bahwa keterampilan itu lahir dari pembiasaan. Hasil yang baik tidak lahir dari usaha yang terhenti karena takut dan putus asa. Begitu kira-kira, atau begitu kan sebenarnya? Doxa!
     *Disajikan pada Forum Diskusi Komunitas Taman Pustaka (KTP)

    By: Sang perindu Kasih (IMMawati PC IMM Parepare)

    Muhammadiyah…,
    Mendengar namamu begitu menakutkan
    Bagi raga yang setia pada agama
    Warisan nenek moyangnya

    Dan kehadiranmu begitu menggema
    Dihati para pecinta syari’at
    Kebenaran ILAHI

    Jika ada kekerasan
    Maka itu bukan engkau
    Jika ada pertikaian dan perpecahan
    Maka itu bukan seruanmu

    Karena beramar ma’ruf nahi mungkar
    Adalah gagasan seruanmu demi
    Terciptanya kedamaian dan
    Tegaknya KALIMAT TAUHID
    Laa ILAHA ILLALLAH

    Jihadmu adalah cinta dan kebenaran
    Cinta akan risalah kebenaran
    Rasulullah Muhammad SAW.
    Perjuanganmu bermodal ikhlas dan
    Pengorbananmu untuk kemaslahatan ummat

    Perjuanganmu telah mencerahkan negeri ini
    Diberbagai sektor kehidupan
    PEMURNIAN ajaran islam  senantiasa
    Menggema dalam naungan
    Panji keikhlasanmu

    Kini.., 1 Abad kehadiran perjuanganmu
    Telah berlalu dan selamanya
    Semangat juangmu akan senantiasa
    Berkobar menantang kebiadaban zaman

    Hidupku tak seindah cinta titian ILAHI
    Tapi hatiku begitu mendamba Kasih_NYA
    Bersama seruanmu langkah tertuntun
    Menyusuri jejak ke_RIDHA_an ALLAH

    (Dibacakan Saat Deklarasi Gerakat Anti Golput Pemilihan Legislatif 2014, PC IMM MAKASSAR)
    Oleh : Esye Yusuf Lapimen
    Esye Yusuf Lapimen

    Salam hormat saya haturkan bersama surat ini, mudah-mudahan pula kehadiran suratku ini tidak mengganggumu, kawan. Sebab, saya hanya ingin bercerita soal keadaan.

    Bukan keadaanku, keadaan rumahku, keadaan keluargaku, sebab saya rasa itu tidak penting. Ada hal yang sangat penting dari itu, yaitu soal keadaan bangsa ini, kawan!

    Kamu tahu kawan, jelang pemilihan legislatilf mendatang. Saya sering kali mendengar beberapa orang yang sering menyebut bangsa kita dengan sebutan bangsat. Jujur, saya risih soal itu. Saya takut kalau itu semakin sering disebut dan betul-betul mewujudkan bangsa ini menjadi bangsa yang bangsat. Olehnya saya mengirimkan surat ini. Surat yang hanya sepanjang kertas, tetapi luasnya melebihi bangsa kita.

    Kawan, apakah kamu pernah mendengar kata itu juga? Sungguh kawan! Kata itu mengganggu bukan hanya dari ujung kaki ke ujung kepala. Tetapi dari palung lautan hingga ke puncak gunung. Saya tidak mau kebangsaanku menjelma kebangsatan.
    Tetapi kawan, mereka yang berkata begitu, juga mempunyai alasan. Waktu itu, saya mendengar dia bercakap dengan rekannya di warung kopi dekat rumahku. Katanya, bangsa ini telah dihuni oleh orang-orang yang tidak mengerti arti berbangsa, melainkan hanya mengerti arti berbangsat. Mereka mengaku ingin berbuat untuk bangsa, hingga mendapatkan gelar bangsawan, tetapi perbuatannya sungguh bangsat.

    Mereka juga berkata begini, jelang pemilihan legislatif yang akan datang. Dia tidak mau memilih, lalu menyebut dirinya golput alias golongan putih. Katanya, hampir sebagian besar yang akan dipilih adalah para bangsawan yang bangsat. Katanya pula, jika dia memilih maka sama halnya dia menyumbang generasi pemimpin bangsat. Tetapi, saya tidak nama orang itu, saya hanya dengarnya berbicara dan saya canggung berkenalan saat itu.

    Kawan, saya yakin kamu tidak berpikiran seperti orang itu. Betul kan? Saya takut jika kamu telah telah ikut terpengaruh dengannya. Sebab, kamu tidak akan mendengar harapanku dalam surat ini. Harapan yang kujemput dari lubuk hati terdalam, kebentuk dengan gemulai jemariku dan kujelma menjadi kata. Harapan yang ingin melihat bangsa ini dengan bangga.

    Olehnya itu, kawan! Marilah mewujudkan kebanggaan bangsa. Ayolah, kita memilih pemimpin yang tidak kebangsatan. Ayolah, kita memilih pemimpin kebanggaan. Minimal memilih yang baik diantara pilihan yang buruk. Apapun pilihannya kawan, itu sangat menentukan perjalanan bangsa kita.

    Tetapi, bukan berarti saya ingin memintamu untuk ikut memilih pilihanku. Bukan, kawan! Tetaplah memilih pilihanmu, kawan! Entah merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Saya hanya memintamu untuk memilih menjadi bangsa yang bangga atau menjadi bangsa yang bangsat.

    Sekian dulu suratku ini, kawan! Mohon maaf jikalau ada kataku yang khilaf. Semoga segala aktivitas kita membuahkan kesuksesan.

    Lukisan Karya Ahmad Sadali
    Ternyata, bahkan di ujung menara pun
    Kepala-Mu jelas kulihat dan melihatku.
    Meski aku berpaling
    Lalu kau pun berpaling, tapi tetap dengan sertaan lirikan-Mu jauh-jauh.
    Dan mata-Mu tetap memikirkanku
    begitu, akbar!

    Lantas, di mana tempat yang mungkin Kau takada?
    Kecuali kemustahilan yang akhirnya mengetuk ujung jempol kakiku!
    Kusasdari itu ketika aku kembali menjelajahi rak bukuku.
    Tertekuklah aku saat itu
    Seketika rindu tajam tertuju pada-Mu
    begitu, akbar!


    Pekan merambat abad.
    Berjuta insan dan berjuta pesakitan dipaksa mengunyahmu.
    Mengabai ketulusan
    pesona ma’ruf berkuasa dari Sumber Kuasa.
    Matahari menyeimbangkan kurva
    atau kadang juga sebaliknya.
    Usaha bergantung Kuasa!
    Tapi tiada lah dusta yang dapat mengelak terang pijarmu
    Pengokoh tubuh dunia, mengadabkan peradaban.
    Tiada pula luhur yang cukup untuk menyanjung baktimu
    Abdi yang tulus, sadar patuh kepada Tunggal Yang Satu.
    Di tanah lapang ujung berjuta setapak sana
    Banyak rusuk yang mengenakanmu, Wahai Matahari!
    Ada yang benderang, mengkilap di saku, perut, dan pantatnya
    Ada yang cerah, gemilang, cemerlang di jiwa, laku, dan hatinya!
    Telah pekan merambat abad mengenakanmu, Matahari!
    Untuk berhias atau jadi gayung saat mandi
    Untuk bersolek atau jadi sendok  mengudap kudapan mahal berlabel dirimu, Matahari!

    Karya: Zulfikar Hafid


    Oleh : Esye Yusuf Lapimen*

    Semenjak turunnya hujan tanpa henti sejak bulan lalu, ketakutan penduduk semakin terasa. Mereka takut banjir besar datang melanda seperti desa-desa tetangga. Mereka takut, semua ternaknya akan mati tersapu banjir. Hasil pertanian akan hanyut. Pohon-pohon akan tumbang, sebab hujan selalu disertai angin kencang. Dan, banyak lagi ketakutan mereka, soal tanah longsor, soal petir yang semakin sering bergemuruh, soal makanan yang semakin sulit didapati, dan soal air bersih, hingga soal jambangan.
    Salah satu yang merasakan hal itu adalah Imnyung, hidup bersama istrinya dan dua orang anaknya yang belum bisa mengenal huruf A hingga Z. Di ruang tamu, dengan istrinya, dia memandangi rinai-rinai hujan yang enggan berhenti. Sebanyak air yang turun dari langit, sebanyak itu pula ketakutan yang datang.
    Suami istri itu sibuk membicarakan langkah-langkah agar hujan sesegera mungkin dihentikan. Dia takut, jangan sampai desanya yang berada di kaki bukit akan bernasib sama dengan desa-desa di bantaran sungai, muara, dan pantai bakau sana. Di sana, tidak ada lagi tanah yang terlihat. Atap-atap rumah penduduk hanya terlihat sejengkal. Dan, pohon-pohon yang belum tumbang disapu angin, nampak meliuk sesekali, seperti meminta pertolongan. Tetapi manusia hanya menyelamatkan dirinya.
    Keduanya terjebak dalam perdebatan yang alot. Sang Istri memaksa Imnyung berlari menembus hujan, ke rumah Pak RT, memohon agar segera diadakan pertemuan warga untuk membahas cara menghetikan hujan. Namun, Imnyung menolak, dia yakin pertemuan tersebut sulit diwujudkan. Kalau terjadi, pertemuan akan berujung sia-sia.
    Sang Istri tidak menyerah, meskipun ketakutan melebihi kekuaratan nalarnya. Sang Istri memohon dengan sangat, menyertakan ketakutan dalam rayuan. Imnyung menangkapnya dan luluh.  Sebelum pergi dikecupnya kening Sang Istri, tersenyum, lalu berbalik menuju pintu rumah yang tidak pernah dibukanya. Wajar, siapa yang ingin bertamu di tengah hujan yang tidak berkesudahan?
    Imnyung berlari sekuat tenaga, sepertinya dia takut hujan membasahinya. Tetapi, bukanlah hujan bila tidak membasahi. Kaos tipis yang digunakan melukiskan dengan kasar tulang-tulang rusuknya. Percikan kubangan air yang diinjaknya dengan hentak, membasuh wajah dan hanya diusapnya sekali. Terus berlari, dia takut basah, padahal basah telah menyertainya. Kuyup.
    Sesampainya, di rumah Pak RT, diutarakannya niatnya secara langsung dari perbincangan alot bersama istrinya. Dikatakannya, bahwa saat ini para warga harus beramai-ramai, bahu membahu, bantu membantu, gotong royong untuk membebaskan desa. Caranya; mencuri matahari. Tepatnya, membebaskan matahari. Ide gila dari sepasang suami istri, yang hendak menyekolahkan anak pun tak mampu, tentu Pak RT tidak setuju dan menerima hal itu.
    Imnyung terus mendesak, seperti yang dilakukan oleh sang istri padanya. Secara gamblang dijelaskannya alasan idenya. “Saat ini, matahari telah terjebak di balik gunung. Takut keluar dari peraduannya. Sebab, hujan terus turun tiada henti. Sebenarnya, matahari hendak bersinar lagi. Tetapi, untuk apa bersinar bila sinarannya harus ditutupi hujan,” jelasnya.
    “Olehnya itu, kami para warga harus membebaskannya. Membuat kepercayaan dirinya pulih. Membuatnya bersinar lagi. Tidakkah bapak liat di ujung gunung sana, saat pagi datang? Ada warna merah kelembutan, isyarat sinar ketakutan. Matahari menunggu kami, para warga. Kami harus saling bantu, sebelum desa tenggelam, seperti yang berada di desa bawah sana. Apa kata leluhur, jika kami yang berada di kaki bukit tidak mampu berbuat apa-apa?” Dia telah merasa penjelasannya cukup saat itu. Dipilihnya berpaling setelah kata terakhir. Tetapi, Pak RT mengisyaratkan agar dirinya dapat menunggu sejenak. “Ayo, Kita ke rumah Pak RW, kita harus yakinkan dia,” katanya.
    Berangkatlah keduanya menembus hujan, memburu waktu sebelum terlambat membebaskan desanya, sebab tiba-tiba dirasanya waktu berputar begitu cepat. Keduanya yakin, hal tersebut harus diwujudkan. Ya, membebaskan matahari. Tetapi, langkahnya bagaimana? Kedua belum bicara hal itu, yang paling penting sekarang adalah meyakinkan semua warga atas ide itu.
    Tentunya, langkah pertama untuk meyakinkan warga adalah meyakinkan Pak RW. Lalu Pak RW akan mengumpulkan para RT-nya. Bila mereka sepakat, maka akan dibentuk tim lobi untuk melobi para RW se-desa. Agar ide dan gagasan dengan mudah disebarkan. Imnyong, akan ditunjuk sebagai ketua tim lobi. Bila para RW telah sepakat, maka akan dibentuk tim perangcang teknis terkait langkah-langkah taktis menyelamatkan matahari. Semua pasti ada rintangannya, apalagi bersangkut paut dengan isi kepala orang perorang.
    Setelah melakukan perdebatan yang panjang dengan pak RW. Akhirnya, pak RW setuju unjuk menjalankan ide tersebut. Dimintanya kedua tamunya untuk memberi kabar kepada para RT saat itu juga, agar dapat berkumpul di rumahnya saat petang menyapa. Kini, Pak RW pun merasa bahwa waktu telah berputar begitu cepat.
    Setelah tugasnya selesai, Imnyung kembali menemui istrinya. Menceritakan idenya telah disetujui hingga tingkat RW. Sebentar lagi, para RT akan sepakat, dan dia akan ditunjuk sebagai juru lobi. Mengajak para ketua RW membebaskan matahari. Rapat-rapat di kantor desa akan selalu meminta pendapatnya. Bila berhasil, dia akan dipuja sebagai pahlawan desa. Menghentikan hujan, menghalau banjir dan membebaskan matahari. Bila ada uang penghargaan, maka dia akan memberikan sepenuhnya untuk Sang Istri sebagai harga atas idenya.
    Saat petang menghampiri, hujan belum juga memberikan tanda akan berakhir. Para ketua RT berjalan menembus rinai-rinai hujan dengan berpayung daun pisang. Gelap, tiada penerangan. Sebab, penduduk takut menyalakan lampu dengan petir yang kian gemuruh. Apalagi menyalakan listrik saat air berlimpah ruah adalah kesalahan fatal. Telah banyak yang meninggal atas tindakan itu.
    Sesaat setelah mereka berkumpul, Pak RW sebagai pemegang kekuasaan puncak saat itu membeberkan alasannya memanggil para tamunya. Setelahnya, dia mempersilahkan Imnyung menjelaskan idenya. Ya, menculik matahari. Tepatnya membebaskan matahari.
    Pembicaraan berlangsung alot. Ada yang bertanya soal cara, tetapi Imnyung tidak mau menjawab hal itu. “Kami mesti sepakat dulu akan ide ini, barulah kami akan membicarakan caranya secara bersama-sama dengan para warga,” jawabnya soal itu.
    Para ketua RT sebenarnya kurang pantas untuk menolak hal itu, sebab ketua RW telah setuju. “Kalau pak RW sudah setuju. Kami juga telah setuju,” kata seorang diantara mereka. Selanjutnya adalah pembentukan tim lobi dan memang berhasil diketuai oleh Imnyung. Tugas ini adalah memastikan para ketua RW lainnya untuk sepakat, lalu akan bersama-sama menemui Pak Desa. Waktunya hanya sehari. Imnyung tentunya akan bekerja secara maksimal.
    Esoknya, Imnyung bangun begitu pagi. Udara terasa menusuk-nusuknya, tidak mampu lagi dibedakannya; dingin hujan dan dingin pagi kaki bukit. Dia bergegas menuju teras rumah. Dipandanginya ke arah gunung, menunggu merah kelembutan itu muncul. Sinaran matahari yang terkulai tak berdaya karena takut akan derasnya hujan. Ingin rasanya dia mengirim surat, mengatakan kabar bahwa bukan hanya matahari yang takut, tetapi semua warga. Di surat itu juga tertulis; akulah penyelematmu!
    Setelahnya, dia berjalan menembus hujan. Tidak takut lagi terhadap hujan, meski telah menyebut jikalau hujan adalah musuhnya saat itu. Terkadang musuh harus dihadapi, merasakan belaiannya untuk mengetahui kelemahan.
    Tentu saja Dia telah menganggap hujan sebagai musuh, sebab hujanlah matahari tidak lagi bersinar. Sebab hujanlah tanah tidak lagi ditanami. Sebab hujanlah ternak tidak lagi bersuara. Sebab hujanlah perempuan mengurung diri dalam kamar. Sebab hujanlah lelaki takut keluar rumah. Sebab hujanlah desanya menjadi sunyi.
    Bersama anggota tim yang telah menunggunya di rumah pak RW, Imnyung berjalan ke rumah-rumah para RW lainnya. Mengutarakan niat, memberi penjelasan, berharap dukungan. Alhasil, lima ketua RW di desa itu menyatakan setuju. Bahkan, mereka hendak menemui kepala desa saat petang kembali melajang tanpa sinar rembulan. Mereka sepertinya telah merasakan bahwa waktu telah berjalan begitu cepat. Penyelamatan akan segera dilakukan secara bersama-sama.
    Waktu terus berjalan. Setelah ditemui, kepala desa pun turut sepakat. Dia ikut merasakan bahwa waktu telah berjalan begitu cepat. Dia berjanji akan menggelar rapat esok harinya, dan meminta para ketua RW melalui ketua RT-nya untuk mengumpulkan warga di kantor desa. Dengan cepat, kabar beredar dari mulut ke mulut menuju telinga ke telinga. Nyaris, warga desa tidak ada yang mampu tertidur. Mereka menunggu esok tiba, lalu berbicara soal langkah-langkah membebaskan matahari. Imnyung pun demikian, bersama istrinya menunggu esok tiba. Di teras rumah, dia menghayati dingin yang tidak mampu lagi dibedakannya, dinginnya hujan atau dinginnya malam kaki bukit.
    ###
    Setelah permusyaratan desa waktu lalu. Semua warga bahu membahu mempersiapkan tempat untuk matahari. Ya, semacam rumah. Bangunan itu, seluruhnya terbuat dari baja ringan. Entah dari mana dia menemukan itu semua. Mungkin mereka telah menjarah toko bangunan desa tetangga yang telah ditinggal pergi pemiliknya karena banjir melanda. Mereka menyelam dan menarik ke atas. Ataukah, dia membongkar kerangka atap milik gudang ikan para nelayan yang baru saja dibangun atas bantuan pemerintah. Mungkin saja, apa yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang yang terdesak?
    Rumah itu, dimaksudkan sebagai tempat penyimpanan matahari agar tidak terkena hujan. Dengan demikian, sinarnya akan berlahan muncul dan menerangi sekitarnya. Akhirnya, hujan akan berangsur-angsur berhenti, sebab sebelum menyentuh tanah, dia telah menguap. Diharapkannya, hujan berbalik takut terhadap matahari yang meotong langkahnya.
    Warga lainnya menyiapkan kereta mini sepuluh roda. Rodanya diambil dari ban sepeda mereka yang tidak lagi terpakai. Bagian atasnya terdapat sebuah bilik yang juga terbuat dari baja ringan, dibentuknya pula menyerupai rumah kecil. Tidak lupa, dibuat beberapa ruas besi menjulur di sisi kiri dan kanan. Agar mereka lebih mudah untuk mendorong kereta nantinya. Mereka akan menjemput matahari dari balik gunung dengan kereta itu. Olehnya, mereka harus bertindak cepat, sebelum banjir sampai di desanya. Rencananya akan gagal karena itu, sebab matahari akan semakin kesakitan bila tersapu banjir bersama mereka.
    Akan tetapi, kabar mulut lebih cepat ketimbang tindakan. Entah siapa yang menceritakan ke desa sebelah yang letaknya lebih tinggi darinya. Desa yang diuntungkan karena posisi dan tidak takut akan banjir. Desa itulah yang menjadi sumber petaka berikutnya. Bagaimana tidak? Warga desa itu menolak dengan keras akan ide desa yang ingin menyelematkan matahari. Alasannya sederhana, mereka takut desanya akan hangus bila matahari melewati pedesaannya.
    Dia pun membangun hasutan dengan desa-desa yang menjadi rute penculikan matahari dari balik gunung. Mereka beramai-ramai menyatakan penolakannya, dan membawahnya pada rapat kecamatan. Camat pun menganggap bahwa tindakan warga desa itu sangatlah berbahaya. Bila mereka berhasil menculik matahari, maka yang terjadi adalah kebinasaan.
    Berulang kali camat melakukan negosiasi dengan para warga desa setempat untuk membatalkan niatnya. Namun, warga desa tersebut sulit untuk dipatahkan. “Manalah mungkin kami akan tunduk pada orang yang tidak mengerti nasib kami. Saudara kami telah meninggalkan desa sana, malah mereka hanya mengatakan itu bencana kemanusiaan,” itu kata kepala desa setelah dibujuk. Sekaligus menjadi penyemangat atas warganya.
    Merasa tidak mampu, camat mencoba meminta bantuan bupati. Dijelaskannya bahwa warga desa setempat telah bersikukuh atas kehendaknya melebihi kehendak Tuhannya. Bupati pun turun tangan. Namun, para warga semakin geram. Soalnya, bupati menawarkan desa yang layak bagi warga di puncak bukit bila sudi mengurungkan niatnya. “Bagaimana kami akan patuh, bila mereka meminta kami untuk meninggalkan tanah yang telah membesarkan kami. Nenek moyang kami telah berdiam disini sekian lama,” seru kepala desa kepada warganya. Semangat untuk mewujudkan semakin menguat. Mereka sebut kebaikan bupati itu sebagai hinaan terhadapnya.
    Para kantor berita ternama pun ikut merasakan panasnya perbedaan pendapat tersebut. “Kepala Desa Lawan Bupati” judul berita headline hari itu cukup menampar para bupati-bupati. Mereka pun turut menyatakan kekecewaan atas tindakan warga desa tersebut. Perkumpulan bupati pun menggelar pertemuan tertutup dan mendesak gubernur untuk mengambil langkah strategis dan bijak akan hal itu.
    Sesuai desakan, gubernur langsung bertindak, merumuskan tindakan bersama staffnya. Para anggota dewan pun tidak mau kalah mengambil kesempatan. Di media, silih berganti mereka berbicara; “gubernur seharusnya turun langsung ke lokasi dan memberikan pemahaman, bukan hanya sibuk menggelar rapat tanpa tidakan”. Adapula yang berkomentar; ”bencana yang menimpa warga di desa sana adalah bentuk ketidak mampuan pemerintah membangun langkah persuasif terhadap warganya”. Bahkan, ada yang mengatakan; “ini adalah bentuk ketidak percayaan warga terhadap pimpinannya, diantara sekian banyak kebohongan yang telah terbangun”.
    Bagaimanapun itu, dengan cepat kejadian ini menjadi isu nasional. Presiden pun akhirnya berkomentar, bahwa tindakan tersebut merupakan tindakan yang harus dihentikan. Warga yang ingin menculik matahari, melawan camat, tidak mempercayai bupati adalah penghinaan terhadap perangkat pemerintah. Penghinaan atas itu adalah pebuatan makar. Perbuatan makar adalah musuh negara. Musuh negara harus diberangus. Diberangus dengan mengerahkan kekuatan militer.
    Bahkan, dalam pidato singkatnya. Presiden mengatakan, tindakan tersebut tidak boleh dibenarkan, sebab warga dunia akan turut berduka apabila matahari tidak lagi berada di peraduannya. “Saya selaku presiden tidak akan membiarkan konstalasi dunia menjadi kacau, hanya karena segelintir orang tidak berpendidikan ingin membodohi kami semua. Dunia akan berduaka. Lalu, dunia akan memberikan somasi terhadap negara kami. Negara yang telah dibangun oleh para guru bangsa. Olehnya, kami harus menjaganya secara bersama-sama”.
    Mendengar kabar pidato itu, para warga setempat semakin geram. Mereka menganggap bahwa presiden sudah tidak menghargai hak-hak kewarganegaraan yang bebas menentukan pendapat. Mereka menganggap bahwa presiden lebih mementingkan nasib negara lain, ketimbang nasib negaranya sendiri. Mereka pun menyatakan perang, kepada siapapun yang menghalangi niatnya. Termasuk kepada negara.
    Kini, mereka bukan hanya mempersiapkan cara menculik matahari. Tetapi, mereka juga menyiapkan perlawanan saat serangan datang tak diundang.
    ###
    Mereka mempersiapkan begitu lama, namun teliti. Hingga akhirnya hujan tiba-tiba berhenti. Akan tetapi, mereka tidak melihat matahari di balik gunung. Matahari telah berada di ujung laut, bersiap untuk membenamkan diri dan bermandi air garam, gerah bermandi air tawar. Petang menjemput.

    Dari udara, suara pesawat mengaum, menghujani warga dengan api. Mungkin saja semuanya tewas. Sebab, tidak ada lagi kisah desa itu setelahnya. 


    *Penulis Adalah Redaktur Pelaksana Majalah Khittah dan Direktur Kominitas Lamaruddani



    Oleh : Kasri Riswadi 

    Kesejukan embun atap surau di pagi hari
    Mengantarkanku pada peraduan
    Mengutarakan segala halang rintang
    Dalam sissiran kehidupan yang pana
    Ingin ku mendapaimu
    Walau dalam kisaran sejengkal demi sejengkal
    Aku akan tetap berjalan
    Menyusuri yang terpendam
    Untuk menemukan makna
    Dari titik kisar perjalanan panjang
    Sebagai Bekal Menuju keabadian


Top