INFO PASANG IKLAN
"Pasang iklan harga terjangkau, Laku barangta beramalki juga". Minat, Hubungi Manajer Iklan Dhadhe 085342448624 atau PIN BB 2931CE74
Popular Posts
-
Hadisaputra, M.Si,dan Nurhikmawaty Hasbiah bersama Ketua PWM Sulsel, Dr Muh Alwi Uddin (foto:ist)
-
Opini Oleh : Nur Faizah Anshar Korupsi, sebuah kata yang tentu tak asing lagi bagi kita. Di semua pemberitaan baik media elektronik maup...
-
Aksi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Rabu, 20 Mei 2015(Foto:fb)
-
Syaharaddin Alrif, S. Sos (Foto : ist) Syaharuddin Alrif akhirnya ditetapkan sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjend) Pimpinan Pusat...
-
Logo Musykom IMM FKIP Unismuh Makassar, Khittah - Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Keguruan dan Ilm...
Tampilkan postingan dengan label Editorial. Tampilkan semua postingan
Editorial
Terkait dengan itu, Prof. Amin Abdullah pernah mengingatkan, setidaknya ada tiga isu besar yang akan menentukan sejarah peradaban dan umat beragama, termasuk di dalamnya Muhammadiyah, dalam sepuluh, dua puluh, lima puluh dan seratus tahun ke depan. Pertama, globalisasi mendorong munculnya model keagamaan baru dari golongan minoritas Muslim di berbagai negara mayoritas Kristen, baik di Eropa, Amerika, maupun Australia. Kedua, Peradaban Barat yang masih terus memimpin dunia dalam berbagai sektor kehidupan. Ketiga, gerakan dakwah dan tajdid bertemu muka dan berhadap-hadapan dengan gerakan dakwah dan jihad (Abdullah, 2010: 21).
Oleh karena itu, Amin Abdullah menyarankan agar paradigma, model,
dan strategi tajdid Muhammadiyah juga harus disesuaikan dengan perkembangan
terbaru wacana keislaman, baik dalam teori maupun praktik. Pembaruan tersebut
meliputi pembaruan gerakan pendidikan, mengenal dengan baik dan mendalam metode
dan pendekatan kontemporer terhadap studi Islam dan keislaman era klasik maupun
kontemporer. Selain itu, bersikap terbuka terhadap perkembangan pengalaman dan
keilmuan generasi mudanya, mengenalkan dialog antar budaya dan agama di akar
rumput, serta memahami nilai-nilai lintas budaya. Tanpa melakukan hal tersebut,
lanjut Amin Abdullah, maka Muhammadiyah akan mengalami kekurangan oksigen untuk
menghirup dan merespon isu-isu sosial keagamaan global dan isu-isu peradaban
Islam kontemporer.
Senada dengan Amin Abdullah, Haedar Nashir (dalam Muhammadiyah Abad Kedua, 2011: 77) juga menawarkan sejumlah agenda sebagai basis pemikiran bagi
Muhammadiyah memasuki Abad Kedua eksistensinya. Pertama, menyusun buku risalah Islamiyah yang
berisi tentang Islam dan berbagai aspeknya yang menjadi pandangan resmi
Muhammadiyah. “Tanpa memiliki pandangan yang substantif dan komprehensif
mengenai Islam maka akan sering terjadi tarik menarik pandangan dalam
Muhammadiyah mengenai hal-hal yang fundamental tentang aspek-aspek ajaran Islam,”
tulis Haedar.
Kedua, mengembangkan konsep Manhaj Tarjih mengenai tiga pendekatan
dalam memahami Islam, yaitu bayani, burhani dan irfani. Pengembangan tersebut
sangat diperlukan untuk memperluas cakrawala metodologis dalam pengembangan
pemikiran Islam di lingkungan Muhammadiyah. Ketiga, menyusun tafsir
Alquran yang komprehensif, dengan paradigma tafsir yang multiperspektif dan
menggunakan berbagai alat tafsir klasik maupun kontemporer. Penyusunan tafsir
Alquran karya Muhammadiyah tersebut akan menjadi rujukan dalam memahami Alquran,
baik bagi anggota, maupun masyarakat luas. Keempat, memformulasikan kembali konsep
masyarakat Islam yang sebenar-benarnya dalam konteks masyarakat modern atau pasca
modern. Kelima, mengagendakan tajdid di bidang dakwah, organisasi, amal
usaha, pengembangan kader dan anggota, ekonomi, dan berbagai model aksi gerakan
agar Muhammadiyah tampil menjadi gerakan Islam yang unggul dan bergerak di
garis depan dalam dinamika kehidupan umat, bangsa dan perkembangan global.
Sanggupkah
Muhammadiyah menjawab dan menuntaskan tantangan tersebut? Muktamar Muhammadiyah
ke-47 di Makassar setidaknya akan menjadi salah satu langkah dalam menjawab
atas sejumlah tantangan di atas. (Redaksi/HD)
Editorial
Suatu hari,
Syuja' bertanya pada gurunya, Kyai Ahmad Dahlan, “apa sebabnya pengajian Al Maun
selalu saja diulang, malah sudah ketiga kalinya, padahal kami sudah hafal dan
mengerti maksudnya?”. Lalu KH Ahmad Dahlan bertanya balik, “Apakah kalian sudah
mengamalkannya?” Syuja' menjawab, “sudah bahkan setiap kali salat
saya membaca Al-Maun.” Lalu KH Ahmad Dahlan menanggapi, “Bukan itu yang saya
maksudkan. Pengajian Jumat yang akan datang, masing-masing orang membawa
seorang miskin, anak yatim, makanan, beserta lauk pauknya, pakaian yang masih
baik serta sabun untuk mandi.”
Jumat
berikutnya, Kyai Dahlan tidak menyuruh para santrinya membaca Al Quran, tetapi
memandikan anak yatim yang dibawa oleh para santri, mempersilahkan mandi
orang-orang miskin yang sudah dewasa, sesudah mandi diberi pakaian yang bersih
dan baik. Kemudian mereka bersama-sama makan dengan para anak yatin dan orang
miskin itu. Sesudah itu sebelum pulang, para anak yatim dan orang miskin itu
diberi bungkusan. Setelah kegiatan itu
selesai seluruhnya, Kyai Dahlan berkata kepada para santrinya, “Sekarang mari
kita pindah kekajian berikutnya.”
Dampak dari pengajian surat Al Maun tersebut,
membuat Syuja' memikirkan cara-cara yang efektif untuk menolong anak yatim dan
orang miskin. Salah satu idenya, yaitu membangun rumah sakit di bawah naungan Muhammadiyah.
Ide ini tentu saja tidak dapat langsung diterima oleh kalangan internal. Banyak
orang yang merasa ide tersebut terlalu muluk untuk dilaksanakan.
Rencana pendirian Rumah Sakit tersebut
rupanya juga dipandang sebelah mata oleh pemerintah Belanda waktu itu. Ketika
Syuja' ditanya oleh pemerintah, “mau buat RS, dokternya dari mana?” Dijawab
Sujak, “dokternya Tuan yang menyediakan.” Belanda pun kaget mendengar
permintaan itu. Syuja' menguatkan permintaannya dengan sebuah argumen, “RS Onder de Bogen
(Sekarang bernama RS Panti Rapih), yang didirikan yayasan Katolik,
dibantu tenaga dokternya oleh pemerintah Belanda. Jadi apa salahnya jika
yayasan Islam mendirikan RS, tenaga dokternya pun dibantu oleh pemerintah
Belanda?”. Alhasil, pemerintah Belanda pun menyediakan beberapa dokter yang
diperbantukan di PKO Muhammadiyah. Pada tanggal 15 Februari 1923, Klinik PKO Muhammadiyah mulai
beroperasi. Itulah kisah pendirian Amal Usaha Kesehatan pertama milik
Muhammadiyah.
Ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik
dari kisah Syuja' tersebut. Pertama, pengajian adalah pondasi
gerakan Muhammadiyah. Betapapun kini Muhammadiyah telah menjadi organisasi
besar yang telah memiliki ribuan amal usaha, ruh gerakan ini adalah pengkajian
terhadap nilai-nilai Qur’an dan Sunnah Rasul. Kedua, gerakan
Muhammadiyah tidak boleh berhenti sebatas pengajian, tapi melakukan aksi nyata.
Aksi nyata yang berpihak terhadap kaum lemah dan terpinggirkan. Ketiga,
aksi nyata yang dilakukan pun tidak boleh bersifat sporadis, tidak
sistematis dan berpola. Aksi nyata membutuhkan sentuhan manajerial. Keempat,
kalau ada motivasi besar untuk bertindak, halangan apapun bisa
dilewati. Sujak mendirikan rumah sakit, ketika Muhammadiyah sama sekali belum
memiliki kader yang berlatarbelakang ilmu kesehatan. Kelima, sejak awal
berdirinya, Muhammadiyah selalu siap bekerjasama dengan siapapun untuk
kepentingan masyarakat banyak, baik dengan Pemerintah maupun dengan pihak yang
memeluk keyakinan agama yang berbeda. Semoga kita bisa mengambil ibrah dari
jejak Syuja'.
Editorial
Frase "mencerdaskan kehidupan
bangsa" sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, adalah usulan dari
para tokoh Muhammadiyah. Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Umum PP
Muhammadiyah, Prof. Din Syamsuddin pada saat Muktamar Pemuda Muhammadiyah,
tahun 2010. "Mencerdaskan kehidupan bangsa" adalah etos dan spirit
Muhammadiyah yang telah ditularkan oleh Muhammadiyah kepada bangsa ini melalui
teks konstitusi. Itulah salah satu alasan mengapa Muhammadiyah dalam lintasan
sejarah bangsa ini berupaya selalu di garda terdepan dalam memimpin usaha
pencerdasan bangsa tersebut.
Bagi Muhammadiyah,
pendidikan merupakan upaya sadar penyiapan peluang bagi manusia untuk menguasai
ipteks berbasis wahyu tekstual (qauliyah) dan wahyu natural (qauniyah:
alam semesta), mengembangkan
kemampuan pemanfaatan alam semesta, menyerap seluruh prinsip perubahan
peradaban bagi kesejahteraan seluruh umat manusia dalam bentangan masa depan
sejarah.
Sedangkan
“Pendidikan Muhammadiyah” adalah pendidikan pencerahan kesadaran ketuhanan
(makrifat iman/tauhid) yang menghidupkan, mencerdaskan dan membebaskan manusia
dari kebodohan dan kemiskinan bagi kesejahteraan dan kemakmuran manusia dalam
kerangka kehidupan bangsa dan tata pergaulan dunia yang terus berubah dan
berkembang (Lihat Muqaddimah Revitalisasi
Pendidikan Muhammadiyah, dalam Tanfidz Muktamar Muhammadiyah, 2010).
Upaya-upaya tersebut dilakukan dengan
mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, mulai dari TK sampai perguruan tinggi,
ditambah lagi dengan pendidikan non formal dalam bentuk dakwah dan pengembangan
SDM yang dilakukan oleh Muhammadiyah secara kultural. Semangat mengembangkan dunia pendidikan memang diwarisi dari KH. Ahmad
Dahlan. Bagi beliau, pendidikan menjadi kunci utama dalam perubahan sosial.
Bahkan dalam catatan sejarah, Ahmad Dahlan lebih dahulu mendirikan lembaga
pendidikan daripada organisasi Muhamamdiyah. Usulan mendirikan organisasi malah
datang dari murid yang diajarnya (Mulkhan, 1990: 94).
Kini, Amal Usaha bidang
pendidikan yang mengalami perkembangan pesat di Sulawesi Selatan adalah
Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Dari 19 PTM yang dibina oleh Muhammadiyah
Sulawesi Selatan, hampir seluruhnya menampakkan perkembangan yang berarti.
Misalnya Universitas Muhammadiyah Makassar dan Universitas Muhammadiyah
Parepare, menjadi perguruan tinggi favorit di Sulawesi Selatan, baik ditinjau dari
segi kualitas akademik maupun dari banyaknya peminat yang ingin kuliah di kampus
tersebut. Demikian pula PTM lainnya cukup menggembirakan, meski masih perlu
mengejar ketertinggalannya.
Ketua PP Muhammadiyah, yang juga Mantan
Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Malik Fadjar, mengingatkan,
"Kampus besar bukan hanya besar
dalam wujud gedung dan mahasiswa yang banyak. Tetapi secara substantif mampu
menunjukkan sebagai institusi pendidikan tinggi yang tangguh. Memiliki dosen
dan mahasiswa yang secara kualitatif andal dan memiliki budaya akademik yang
kuat."
Sementara itu dalam
bidang pendidikan dasar dan menengah, harus diakui bahwa secara keseluruhan
kondisi perguruan Muhammadiyah tersebut mengalami gejala kemunduran. Bahkan,
tidak jarang ditemukan adanya perguruan Muhammadiyah yang sudah tutup. Meski
masih ada beberapa sekolah yang masih terus menunjukkan kemajuan. Oleh
karenanya, Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PW Muhammadiyah Sulsel
terus bergerak membenahi berbagai kekurangan dan mengakselerasi kemajuan sekolah-sekolah
Muhammadiyah.
Tantangan Kedepan
Ratna Megawangi (2005), mengulas bahwa
Abad ke-21 ditandai oleh perubahan begitu cepat dalam berbagai aspek kehidupan
manusia, dan laju ini akan jauh lebih cepat prosesnya dibandingkan dengan abad
sebelumnya. Agar dapat beradaptasi
dengan lingkungan yang terus berubah, manusia harus mampu belajar suatu hal
yang baru dengan cepat dan kreatif dalam mencari solusi masalah, serta selalu
mempunyai motivasi yang kuat untuk terus belajar. Manusia abad 21 adalah
manusia Lifelong Learners.
Salah satu tantangan di depan mata
adalah Masyarakat Ekonomi ASEAN, yang salah satu pilarnya adalah pembentukan
pasar tunggal ASEAN pada tahun 2015. Siapkah kita menghadapi serbuan tenaga
kerja dari negara tetangga di ASEAN ini dan mampukah kita memanfaatkan peluang
pasar di negara ASEAN lain? Kekhawatiran yang muncul terutama terkait dengan
ketidaksiapan tenaga kerja Indonesia. Berdasarkan survei Asian Productivity Organization 2004, dari setiap 1000 tenaga kerja
Indonesia, hanya 4,3% yang tergolong terampil, Filipina 8,3%, Malaysia 32,6%,
Singapura, 34,7% (Tinjauan Kompas, Menatap Indonesia 2014). Lalu bagaimana
dengan kesiapan Amal Usaha Pendidikan Muhammadiyah?

