Oleh: Hamzah Fanshury


    “…ini telah digariskan, biarlah terjadi !
    Aku tak usah ikut campur dalam urusan Tuhan.”[Victor Hugo]

               Sebuah identitas sedang terjebak dalam logika yang krisis; pemuda Muhammadiyah. Logika yang tak kuasa menampik konstanta fakta-fakta yang ambigu, saat sebuah kondisi terseret-seret dalam alur yang sophisticated; di sana, dalam pemuda Muhammadiyah, kian banyak gejala yang sulit dicandra. Kata-kata berseliweran pada horison yang labil, yang saling beririsan tanpa textum penanda, tanpa referensi data gagasan dan laku, yang kita pungut dan kita himpun dari pedalaman sejarah. Dengan nalar kader yang tanpa reference itu, para kader pemuda Muhammadiyah seakan sedang mencoba menggenggam angin, memberi nama pada absurditas. Tentu saja yang akan ditemui hanyalah gejala; sekumpulan gejala yang kisruh. Tapi toh kita tak mesti mengalami nightmare karena persoalan-persoalan yang tak mudah diformulasi dan dicarikan jawab di tanah yang sedang goyah ini; pemuda Muhammadiyah.
                Menunjuk pada sebuah waktu yang telah menjadi lampau, 2 mei 1932 masehi bertepatan dengan 26 Dzulhijjah 1350 hijriah, pemuda Muhammadiyah digagas yang akhirnya menjadi ruas cerita yang menandai identitas orang perorang, merangkumnya dalam frekwensi idea yang sama pada ranah komunal; kader. Terma kader adalah spektrum nilai yang menyambungkan setiap orang tanpa terjebak oleh segregasi ruang waktu. Artinya setiap kader boleh dan absah untuk menjelajah dan ziarah pada medan realitas mana saja, tetapi identitas dan nilai kader tak dibiarkan mengalami kedunguan kultural. Pemuda Muhammadiyah sebagai idea memberi kemampuan pada kader untuk membangun latar asumsi dan perspektif yang khas, membingkai alam pikiran setiap warganya dalam interaksi apa saja dan di mana saja.
                Rasanya perlu memberi sedikit eksplanasi tentang apa itu nilai dan apa itu identitas. Nilai yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah sistem keyakinan (belief system) yang relatif stabil mengenai suatu objek di mana ia berperan mempengaruhi sikap batin kita dalam memandang dan memberi atribut terhadap objek atau realitas itu. Sebuah nilai tidak berada dalam tata yang vakum, ia menenggang konteks dan zaman; gerak yang tak henti untuk terus menemu jadi. Sebaris on going process. Dengan kata lain, kita tak bisa menampik perubahan dalam garba kehidupan yang bisa mengabarkan kesenjangan, disintegrasi, krisis, kecacatan, dan mengancam runtuhnya bangunan nilai yang telah dikonseptualisasi. Karena itu perlu ada kesadaran limit atas sebuah konsepsi dan paradigma. Dalam penjelasan Thomas S. Kuhn, paradigma adalah sebuah lingkaran sains yang tak mengalami kata sudah dan henti dalam berpendar dan berputar. Bergerak mendalami logika demi logika realitas. Kesadaran limit konseptual dan paradigma penting agar kita tak terjebak dalam eksklusivisme anutan nilai.
                Identitas bermakna bahwa ada kesadaran akan diri, atau sebentuk imajinasi tentang sosok seperti apa diri dalam kancah hidup. Dalam pandangan Anthoni Giddens, salah satu karakter kunci dari modernitas adalah apa yang disebut ‘proyeksi refleksif dari diri’ di mana individu bercermin pada identitas mereka sendiri sambil ia terus menerus melakukan konstruksi atasnya. Sebagaimana nilai, identitas juga mengalami ketegangan dan pemuaian dalam proses-proses kemenjadiannya yang melibatkan negosiasi (;teori ini berutang banyak pada pemikiran George H. Mead) antara diri dan pihak eksternal; sahabat, lingkungan tempat tinggal dan bertumbuh, dan juga bacaan.
                Eksplanasi sederhana di atas dirasa penting sebab hari-hari menjelang suksesi kepemimpinan tingkat wilayah di pemuda Muhammadiyah, tiba-tiba saja terdengar sebagian orang mulai ramai berteriak-teriak tentang nilai dan identitas kader pemuda Muhammadiyah. Idealisme dan pragmatisme mulai diungkit dan disengketakan; riuh yang tiba-tiba dan lucu. Betapa tidak, ada deret waktu yang kita lewati, yang bukan hanya hitungan hari melainkan dekade dalam pemuda Muhammadiyah, tetapi siapa di antara kader yang rela berkeringat memeras nalar dan melakukan refleksi eidos; melakukan pencarian atas pemberi bentuk dan kondisi yang khas dari pemuda Muhammadiyah sebagai entitas partikular dalam jagad keindonesiaan dan kemanusiaan? Nyaris tidak ada. Setiap perhelatan permusyawaratan perbincangan tentang gagasan konseptual yang akan menjadi basis dan bingkai gerakan selalu mengalami periferalisasi; diskursus yang pinggiran. Tak menarik dan tak menggairahkan. Tak mengundang hasrat dan tak membangkitkan libido.
                Kader-kader pemuda Muhammadiyah yang seakan dilepaskan dari kerangka dan postulasi idea yang tertata, niscaya akan mengalami kebingungan ‘defenition of the situation’ yang akut. Mereka yang berteriak-teriak tentang friksi kader yang ‘telah’ berpartai dan kader yang tidak berpartai, tentang kader yang ideologis dan kader yang pragmatis, adalah orang-orang yang terjebak dalam sebentuk pelabelan. Dan dalam labelling theory (H.S. becker;1963) pelabelan menciptakan atau memperbesar penyimpangan. Terantuknya mereka pada pelabelan bisa saja disebabkan oleh karena tidak adanya akses yang cukup terhadap bangunan konseptual yang dianut di pemuda Muhammadiyah saat ini; khittah, anggaran dasar, dan anggaran rumah tangga, atau bisa juga karena tidak adanya pergulatan yang intens dengan relasi mobilitas antar generasi. Mereka sangat mungkin adalah orang-orang yang sedang tersudut dipojok pergulatan dan kemudian tersesat melakukan pelabelan; orang-orang yang rabun realitas.  Sungguh, ini tragika yang memilukan kalau tak sampai hati untuk disebut memalukan.
                Ketika berhamburan realitas seperti sekarang ini, di mana yang bertarung dalam arena suksesi adalah kader-kader berpartai, adalah kader-kader yang jadi saudagar, adalah kader-kader yang pernah disepak keluar dari struktur karena membuat ‘marah dan kecewa’ kelompok di Pemuda Muhammadiyah yang punya interest politik kuasa, maka tentu saja itu merupakan hal yang tak perlu disikapi secara emotif reaksioner dengan berkata; hati-hati politisasi, hati-hati money politics, hati-hati pemanjaan finansial dengan mobilisasi peserta musywil melalui pembayaran SWO (baca; Sumbangan Wajib Organisasi) oleh kandidat calon ketua, hati-hati dengan karantina suara melalui karantina peserta musywil di hotel-hotel. Toh kita sesungguhnya telah cukup lama memberi ruang untuk hal-hal sedemikian itu bertumbuh dengan cukup cepat di tanah yang tak murni ini; pemuda Muhammadiyah.
                Situasi yang sedang menggeliat menjelang Musywil Pemuda Muhammadiyah, memberi kita bukan hanya kisruh kata-kata melainkan juga menurunkan chaos identifikasional dalam ikhtiar mencari standar-standar etik dan filosofis baru dengan tergesa; seperti menginci harapan dari cermin masa lalu. Sementara “…masa lalu tidak lagi memberi banyak jawaban, namun jauh lebih banyak pertanyaan.” Maka pada akhirnya kita memang harus menerima dengan hati yang tak perlu gemuruh, bahwa “entropi adalah fundamental. Semua membusuk. Kristal yang tersusun sempurna pada akhirnya berubah menjadi partikel-partikel debu acak.”  Dan pemuda Muhammadiyah rasanya memang sedang terjerat dan disandra oleh suatu situasi yang sesungguhnya telah lama disiapkan oleh kadernya sendiri; liturgi politik. Rumah kultural kita sedang dihempas angin kering yang berdebu; ia menyumbat jalan nafas kita. Mata memicing dan karena itu jalan kian nampak sempit. Selengkung kilasan pesan sedang dipampang; menerima gelembung-gelembung persoalan yang makin pekat lantas berkata lirih “kita mesti memaafkan diri sendiri,” atau memang akhirnya kita harus memilih jalan yang tak mudah untuk disepakati; “ayo kita berkelahi saja, sampai mati,” sebab “…tak ada yang lebih baik dari suatu pertengkaran kecuali berbentuk kericuhan, dan tak ada kericuhan yang lebih baik ketimbang sebuah revolusi.”
                Kita tahu, bahwa “Tuhan menyediakan kriteria ideal untuk membuat keputusan-keputusan yang benar…menghilangkan kekhawatiran yang disebabkan oleh kebingungan akan eksistensi dan keterabaian.”  Tetapi kita juga tahu sebuah identitas dan juga nilai laksana benih; ia hanya akan tumbuh dengan baik jika ia ditabur di atas tanah yang tak kerontang.
                Maka pada akhirnya, di tanah yang tak murni; Pemuda Muhammadiyah, kita harus berani berkata; berhentilah berteriak soal politisasi, sebab jika kau tetap lakukan itu, kau hanya akan terlihat seperti si munafik yang menyebalkan!

    ,

    Ilustrasi gambar
    Makassar.KHITTAH-- Beberapa minggu terakhir isu radikalisme baik yang bersifat internasional dan nasional seperti ISIS, maupun isu lokal dengan mencuatnya kembali  spirit gerakan Kahar Mudzakkar, sebagaimana  dilansir sejumlah media lokal.

    Menaggapi hal ini, Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Hadisaputra meminta kepada pemerintah untuk tidak sekadar mengedepankan pendekatan legalistik dan militeralistik dalam menyelesaikan persoalan tersebut.

    Menurutnya, persoalan ini harus didekati dengan banyak pendekatan, baik secara ekonomi, budaya maupun agama. “Kemiskinan adalah ruang tumbuh suburnya radikalisme, sebab dalam kehidupan dunia ketika orang tidak memiliki harapan, maka disitulah kelompok radikal memanfaatkan kesempatan memberikan tawaran, baik secara ekonomi maupun secara ideologis,” jelas magister ilmu Antropologi Unhas ini.

    Dalam pendekatan ekonomi lanjut Hadi, pemerintah juga mesti proaktif menjalankan program pemberdayaan masyarakat maupun program jaminan sosial dalam rangka menjamin kebutuhan dasar masyarakatnya.

    Sementara itu pada pendekatan agama, pemerintah katanya harus melibatkan ormas Islam moderat seperti Muhammadiyah dan NU, ini untuk memasifikasi dakwah Islam rahmatan lilalamiin. “Jika pemerintah hanya mengandalkan pada aspek penindakan hukum dan militer saja, maka itu tidak akan menyelesaikan akar masalah,  seperti kata pepatah, patah tumbuh hilang berganti, mati satu tumbuh seribu,” tutupnya. (KR)


    Oleh : Rahmawati Idrus
    (Ketua Bidang Hikmah dan Advokasi PW IPM Sul - Sel)
     
    Apa yang ada dikepalamu saat ini tentang valantine? Bunga mawar, coklat, parfume, baju couple, atau lokasi-lokasi romantis? Saudaraku bisakah kau katakan apa itu valentine, ada apa dengan valentine? Mengapa hari itu begitu diagung-agungkan? Bisakah kau meyakinkanku bahwa hari itu adalah hari baik. Hari yang patut untuk kita rayakan bersama.  Seperti  yang dilakukan oleh semua orang. Jelaskan kepadaku kebaikan dan kebenaran yang terkandung dibalik hari itu, agar aku bisa merayakannya, bersama engkau bersama semua orang yang dicinta. Sungguh aku tahu bahwa cinta memang amat membuthkan kasih sayang. Aku juga teramat tahu bahwa kebersamaan sangat diinginkan oleh setiap pasangan kekasih. Bahkan aku juga sangat paham bahwa setia pasangan sangat mendambakan hadiah  berkunjung ketempat-tempat yang indah bersama sang kekasih dan menghabiskan waktu dengannya. Yah… aku paham itu dan aku menegerti itu.
    Namun, perlu kau tahu saudaraku, adikku, sahabatku bahwa ketika engakau tiada bisa menunjukkannya atas kebenaran yang terkandung di dalamnya, maka kuingin engkau memeluangkan waktumu sejenak untuk memabaca coretanku ini.  cinta tidak hanya butuh dengan hal seperti itu, tetapi komitmenlah untuk menghlalkan itu yang utama. Bukan hanya ketika hari jadian yang diperingati, hari ulang tahun, dan bukan ketika hari pink yang dianggap sakral oleh para psangan muda mudi. Sebuah hari yang identik dengan Pink, cokelat, bunga mawar, bahkan sebuah hadiah yang sangat mahal dan tak mampu untuk kubahasakan kepadamu. Sebuah mahkota yang takkan pernah terganti untuk selamanya harus raib satu malam hanya sebagai wujud kecintaanya terhadap sang kekasih.
    Saudaraku, adikku, sahabatku. aku tak bermksud untuk mngguruimu atau melarangmu memberi hadiah antar sesame. Hanya saja pernakah engkau tahu bahwa bukan kebenaran yang terkandung pada hari itu, melainkan aib. Hari engkau sebut sebagai hari kasih dan sayang itu, bukanlah demikian adanya. Pada hari kelahiran itu,bukan kasih maupun sayang melainkan dua jabang bayi besar bernama syahwat dan nafsu. Dua jabang bayi itu terlahir setelah membantai dengan keji dua jabang bayi lainnya yaitu akal dan pikiran.
    Tahukah engkau bahwa akibat kelahiran mereka, malam itu banyak sekali perzinahan dimana-mana. Tidak ada lagi pemuda dan pemudi. Yang ada hanya binatang-binatang yang kawin tanpa rasa malu. Dan semua itu diawali oleh sosok makhluk yang kini engkau sebut namanya setiap “Tanggal 14 Februari”.
    Maka katakanlah kepadaku bahwa hari itu adalah hari baik. Hari bersejarah. Dan ajaklah aku merayakannya bersama engkau. Bersama semua orang. Sehingga bersama-sama , kelak kita akan meramaikan dengan apa yang kita kira itu cinta. Sehingga bersama-sama pula kita larut dan meneggelamkan diri di dalamnya, Di dalam NerakaNya.
    Saudaraku, adikku, sahabatku aku tidak memintamu untuk menghentikan usahamu membangun silaturahim yang sudah engkau rencanakan. Saling member itu mulia, dan menjaga silaturahim itu syurga. Maka berikanlah cokelat-cokelat yang telah engkau siapkan atas nama rasa persaudraan sesama umat islam dan sesama umat manusia. Dan jauhkanlah niat-niatmu yang lain agar terlahir kembali dua jabang bayi yang telah mati, akal dan pikiran.
    Sungguh aku menulis coretan ini atas nama kasih dan sayangku kepada engkau sebagai saudara seibu dan seayah, Adam dan Hawa. Terahir, izinkan aku mengucapakn selamat hari kasih sayang setiap waktu karena Allah. Sebab berkasih sayang antar sesame itu bukan hanya ditanggal 14 Februari melainkan setiap menit, waktu, hari dan selamanya. Ketika engkau tak mampu member makan tebarkanlah salam dan senyum sebagai wujud kasih dan sayangmu…(RpB)


    Oleh: Hamzah Fanshury
    (Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah Sulsel)


    Ahmad Dahlan duduk di atas kereta di stasiun tugu Yogyakarta, dengan gundah dan geram yang menyerimpungnya. Ia dipojokkan oleh sebuah situasi; kongkurensi. Ya, di kereta yang sedang siap melaju berangkat itu, Ahmad Dahlan ingin pergi dari situasi yang tak menerima apa yang ditawarkannya; pembaharuan.

    Langgar, atau Mushalla, tempat ia menyampaikan agama islam yang segar, islam yang hadir bagai ‘denting biola’ yang merdu, dibakar jadi abu oleh massa. Dan massa yang diamuk amarah, massa yang tak tertarik oleh agama yang datang bagai ‘denting biola’ itu, menyampirkan cap pada Ahmad Dahlan; kafir.

    Ahmad Dahlan diusir. Tapi ia memiliki sedikit keluarga yang memberi bela. Dan pula ada seorang perempuan, istri yang tegar; Walidah. Dan segelintir teman yang ingin menghayati makna agama yang datang bagai ‘denting biola’ itu. Dan Ahmad Dahlan terbujuk untuk tak berangkat pergi. 

    Karena itulah Ahmad Dahlan beranjak meninggalkan tempat duduknya di atas kereta api; ia tak jadi pergi bersama gundah yang menyerimpungnya itu. Yang melaju bersama Ahmad Dahlan akhirnya bukan kereta api itu, melainkan sesuatu yang kini menjadi doktrin fundamental dalam organisasi yang telah melampaui usia satu abad; tajdid.

    Tajdid adalah penghayatan dan pergulatan sekaligus. Penghayatan atas agama sebagai kesadaran personal, penghayatan atas agama sebagai pencerapan paling dasariah dalam hidup.  pergulatan dengan diri yang me-realitas, diri yang terhubung dengan tata fenomena yang dialami dengan kompleksitas yang tidak senantiasa terdiferensiasi dengan jelas. Dengan redaksi yang simplisistik, meminjam terma yang digunakan Alfred North Whitehead dalam “Filsafat Proses”-nya, tajdid dalam Muhammadiyah bisa dikatakan sebagai causal efficacy; pengalaman kausal-intuitif.

    Dalam Muhammadiyah tajdid barangkali sebaiknya diperlakukan seperti gradasi cahaya ‘pencerahan’ yang menembus abad, melintasi lapis generasi. Atau barangkali seperti yang digambarkan Plato dalam theaetetus-nya; “Engkau tak dapat mencebur dua kali ke dalam sungai yang sama, karena air segar senantiasa mengalir melintasimu.”

    Dengan kata lain, tajdid dalam Muhammadiyah merupakan on going process. Dengan demikian tajdid bukan suatu ortodoksi, atau teks yang terperangkap dalam ruang waktu. Sehingga menjadi patut dan benar jika dalam Muhammadiyah hidup suatu kesadaran fundamental bahwa; hidup yang berputar dalam nukleus masa lalu adalah pertanda kematian peradaban.
    Hidup dengan tajdid adalah hidup yang tak jatuh dalam isme ‘maa alfaina aabaa’anaa’; yang cukup dari warisan nenek moyang. Tetapi dengan keyakinan tajdid yang demikian itu, bukan berarti Muhammadiyah tidak memiliki kesadaran tentang relasi historis dengan ‘masa lalu’-nya, dengan elemen-elemen budaya dan atau wawasan-wawasan tradisi yang hidup dalam diri-nya (nya; Muhammadiyah). Elemen budaya dan wawasan tradisi ‘masa lalu’ itu diresepsi sebagai penghindaran dari jebakan eksklusivisme, atau meminjam eksplanasi Adonis dalam ‘Arkeologi Sejarah Pemikiran Arab Islam’: “elemen-elemen tersebut tidak memiliki nilai dari sisi bahwa elemen-elemen tersebut sudah berlalu, tetapi nilainya terletak pada kenyataan bahwa elemen-elemen tersebut menyimpan potensi untuk menerangi masa datang…sejauh mana kemampuannya untuk menjadi bagian dari masa datang.”
    Ahmad Dahlan, dan agama yang datang bagai ‘denting biola’ adalah peristiwa yang meletakkan tanda (sign) untuk generasi Muhammadiyah kini dan yang akan tiba berikutnya bahwa keindahan lahir dari ‘percintaan’ senar dan nada, bunyi  yang tersusun dari gesekan-gesekan sunyi; imaji. Dan di sana senantiasa hadir kebaruan yang menampik jenuh, menampik lusuh.

    Demikianlah tajdid itu, di mana Muhammmadiyah “tak dapat mencebur dua kali ke dalam sungai yang sama, karena air segar senantiasa mengalir melintasi-nya.” Dan itu membutuhkan tidak hanya kecerdasan yang cukup, tapi juga keberanian yang rendah hati. Mungkin. (*)

    Penulis :Abdul Munir Mulkhan
    ISBN: 9786029431278
    Oktober 2013
    Penerbit: Galang Pustaka
    Ukuran: 15 x 23 cm
    Halaman: 323

    Marhaenis Muhammadiyah: Ajaran dan Pemikiran KH. Ahmad Dahlan” adalah hasil penelitian Abdul Munir Mulkhan terhadap petani di Wuluhan, Jember, Jawa Timur yang kemudian menjadi pengikut Muhammadiyah. Mereka yang sebagian besar adalah kaum abangan yang banyak terlibat aktif di Partai Nasional Indonesia (PNI) tertarik dengan praktek keberagamaan  dan kehidupan sosial Muhammadiyah. Menariknya, tradisi sosial – budaya masyarakat abangan itu tidak hilang, tetapi justru memunculkan corak dan makna keberagamaan baru dan mereka menjadi pengikut Muhammadiyah. Selanjutnya, mereka kemudian diberi sebutan Marmud atau Marhaenis Muhammadiyah.
    Marmud adalah salah satu kelompok islam dalam Muhammadiyah yang mengintegrasikan atau menginternalisasi hukum atau doktrin syariah kedalam tradisi singkretik kehidupan mereka. Selain kelompok di atas, ada juga yang disebut Muhammadiyah Ikhlas, yakni reprentasi islam murni yang fundamentalis. Mereka menganggap tarjih adalah produk paling ideal memuat hukum-hukum islam dan bekerja adalah kewajiban agama (amaliah). Kelompok kedua adalah Muhammadiyah Kiai Dahlan, yaitu orang – orang yang juga menjalankan keberagamaan sesuai tuntutan tarjih dan cukup toleran terhadap TBC. Mereka sebagian besar adalah pegawai pemerintah dan termasuk pendukung partai golkar. Kehidupan mereka relative lebih mapan dibandingkan dengan kelompok ikhlas. Kelompok ketiga adalah Muhammadiyah Neotradisionalis atau Munu (Muhammadiyah NU) yang mayoritas petani. Kelompok ini secara umum masih memelihara praktik TBC dalam kehidupan sehari – hari. Bagi kelompok ini, tuhan lebih kompromis, pendengar dan penerima do’a. Mereka menganggap ‘orang saleh’ dalam lembaga tampak lebih magis, yaitu penyambung kepada tuhan. Kelompok ini masih sering melakukan slametan dan tahlilan. Sebutan dari masing – masing kelompok itu merupakan kategorisasi dari yang puritan skriptualis, substansial, neotradisionalis, dan neosinkretis.
    Selain pembagian empat jenis orang MD di atas, buku ini juga merekam jejak ajaran dan pemikiran ‘’spiritualisme ‘hati suci’’ K.H. Ahmad Dahlan yang sangat toleran, tetapi dibelokkan oleh para elit (Muhammadiyah) yang didominasi oleh ahli syariah. Mereka ingin memusnahkan TBC (tahyul, bid’ah, dan khurafat) sampai pada akarnya, bahkan dengan cara-cara kekerasan sekalipun demi tegaknya syariah. Maka Muhammadiyah pernah menjadi buldooser kebudayaan.
    Sangat berbeda dengan pola pemurnian islam yang dibawa oleh K.H. Ahmad Dahlan yang mengedepankan kesalehan spiritual, yang kemudian melahirkan ragam model kebermuhammadiyahan. Bagi kaum tani, menjadi Muhammadiyah akan memiliki arti sesuai makna dunia magis, bukan etis. Upacara Ritual TBC, diubah maknanya sebagai tradisi dan media berbakti kepada ‘orang tua’ atau membangun jaringan dakwah. TBC tidak serta merta ditolak, tetapi Islam murni dipribumisasi, sehingga taklid, slametan kematian, dan tahlilan merupakan gejala umum yang dianut gerakan ini.
    Ada dua hal yang mungkin tak ditangkap buku ini, pertama adalah apa yang telah dilakukan para petani di Wuluhan juga mengandung spirit tajdid yang cukup revolusioner. Mengintegrasikan antara ajaran agama dan kultur yang berkembang di masyarakat demi kepentingan bersama. Kedua adalah bahwa di daerah lain kemungkinan besar juga terjadi hal demikian, banyaknya masyarakat yang bergabung ke Muhammadiyah dengan ragam kepentingan, entah itu kepentingan politik praktis ataupun hal- hal yang bersifat pragmatis. (Sahrul)


Top