INFO PASANG IKLAN
"Pasang iklan harga terjangkau, Laku barangta beramalki juga". Minat, Hubungi Manajer Iklan Dhadhe 085342448624 atau PIN BB 2931CE74
Popular Posts
-
Hadisaputra, M.Si,dan Nurhikmawaty Hasbiah bersama Ketua PWM Sulsel, Dr Muh Alwi Uddin (foto:ist)
-
Opini Oleh : Nur Faizah Anshar Korupsi, sebuah kata yang tentu tak asing lagi bagi kita. Di semua pemberitaan baik media elektronik maup...
-
Aksi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Rabu, 20 Mei 2015(Foto:fb)
-
Syaharaddin Alrif, S. Sos (Foto : ist) Syaharuddin Alrif akhirnya ditetapkan sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjend) Pimpinan Pusat...
-
Logo Musykom IMM FKIP Unismuh Makassar, Khittah - Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Keguruan dan Ilm...
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Hikmah
Oleh: Hamzah Fanshury
“…ini telah digariskan, biarlah terjadi !
Aku tak usah ikut campur dalam urusan
Tuhan.”[Victor
Hugo]
Sebuah
identitas sedang terjebak dalam logika yang krisis; pemuda Muhammadiyah. Logika yang tak kuasa
menampik konstanta fakta-fakta yang ambigu, saat sebuah kondisi terseret-seret
dalam alur yang sophisticated;
di sana, dalam pemuda Muhammadiyah, kian banyak gejala yang sulit dicandra.
Kata-kata berseliweran pada horison yang labil, yang saling beririsan tanpa textum penanda, tanpa
referensi data gagasan dan laku, yang kita pungut dan kita himpun dari
pedalaman sejarah. Dengan nalar kader yang tanpa reference itu, para kader pemuda Muhammadiyah
seakan sedang mencoba menggenggam angin, memberi nama pada absurditas. Tentu
saja yang akan ditemui hanyalah gejala; sekumpulan gejala yang kisruh. Tapi toh
kita tak mesti mengalami nightmare
karena persoalan-persoalan yang tak mudah diformulasi dan dicarikan
jawab di tanah yang sedang goyah ini; pemuda
Muhammadiyah.
Menunjuk
pada sebuah waktu yang telah menjadi lampau, 2 mei 1932 masehi bertepatan
dengan 26 Dzulhijjah 1350 hijriah, pemuda Muhammadiyah digagas yang akhirnya
menjadi ruas cerita yang menandai identitas orang perorang, merangkumnya dalam
frekwensi idea yang sama pada ranah komunal; kader.
Terma kader adalah spektrum nilai yang menyambungkan setiap orang tanpa
terjebak oleh segregasi ruang waktu. Artinya setiap kader boleh dan absah untuk
menjelajah dan ziarah pada medan realitas mana saja, tetapi identitas dan nilai
kader tak dibiarkan mengalami kedunguan
kultural. Pemuda Muhammadiyah sebagai idea memberi kemampuan pada
kader untuk membangun latar asumsi dan perspektif yang khas, membingkai alam
pikiran setiap warganya dalam interaksi apa saja dan di mana saja.
Rasanya
perlu memberi sedikit eksplanasi tentang apa itu nilai dan apa itu identitas. Nilai yang dimaksudkan
dalam tulisan ini adalah sistem keyakinan (belief
system) yang relatif stabil mengenai suatu objek di mana ia berperan
mempengaruhi sikap batin kita dalam memandang dan memberi atribut terhadap
objek atau realitas itu. Sebuah nilai tidak berada dalam tata yang vakum, ia
menenggang konteks dan zaman; gerak yang tak henti untuk terus menemu jadi.
Sebaris on going process. Dengan
kata lain, kita tak bisa menampik perubahan dalam garba kehidupan yang bisa
mengabarkan kesenjangan, disintegrasi, krisis, kecacatan, dan mengancam
runtuhnya bangunan nilai yang telah dikonseptualisasi. Karena itu perlu ada
kesadaran limit atas sebuah konsepsi dan paradigma. Dalam penjelasan Thomas S.
Kuhn, paradigma adalah sebuah lingkaran sains yang tak mengalami kata sudah dan
henti dalam berpendar dan berputar. Bergerak mendalami logika demi logika
realitas. Kesadaran limit konseptual dan paradigma penting agar kita tak
terjebak dalam eksklusivisme anutan nilai.
Identitas bermakna bahwa ada
kesadaran akan diri, atau sebentuk imajinasi tentang sosok seperti apa diri
dalam kancah hidup. Dalam pandangan Anthoni Giddens, salah satu karakter kunci
dari modernitas adalah apa yang disebut ‘proyeksi
refleksif dari diri’ di mana individu bercermin pada identitas
mereka sendiri sambil ia terus menerus melakukan konstruksi atasnya.
Sebagaimana nilai, identitas juga mengalami ketegangan dan pemuaian dalam
proses-proses kemenjadiannya yang melibatkan negosiasi (;teori ini berutang
banyak pada pemikiran George H. Mead) antara diri dan pihak eksternal; sahabat,
lingkungan tempat tinggal dan bertumbuh, dan juga bacaan.
Eksplanasi
sederhana di atas dirasa penting sebab hari-hari menjelang suksesi kepemimpinan
tingkat wilayah di pemuda Muhammadiyah, tiba-tiba saja terdengar sebagian orang
mulai ramai berteriak-teriak tentang nilai dan identitas kader pemuda
Muhammadiyah. Idealisme dan pragmatisme mulai diungkit dan disengketakan; riuh
yang tiba-tiba dan lucu. Betapa tidak, ada deret waktu yang kita lewati, yang
bukan hanya hitungan hari melainkan dekade dalam pemuda Muhammadiyah, tetapi
siapa di antara kader yang rela berkeringat memeras nalar dan melakukan
refleksi eidos; melakukan
pencarian atas pemberi bentuk dan kondisi yang khas dari pemuda Muhammadiyah
sebagai entitas partikular dalam jagad keindonesiaan dan kemanusiaan? Nyaris tidak
ada. Setiap perhelatan permusyawaratan perbincangan tentang gagasan konseptual
yang akan menjadi basis dan bingkai gerakan selalu mengalami periferalisasi;
diskursus yang pinggiran. Tak menarik dan tak menggairahkan. Tak mengundang
hasrat dan tak membangkitkan libido.
Kader-kader
pemuda Muhammadiyah yang seakan
dilepaskan dari kerangka dan postulasi idea yang tertata, niscaya akan
mengalami kebingungan ‘defenition
of the situation’ yang akut. Mereka yang berteriak-teriak tentang
friksi kader yang ‘telah’ berpartai dan kader yang tidak berpartai, tentang
kader yang ideologis dan kader yang pragmatis, adalah orang-orang yang terjebak
dalam sebentuk pelabelan. Dan dalam labelling
theory (H.S. becker;1963) pelabelan menciptakan atau memperbesar
penyimpangan. Terantuknya mereka pada pelabelan bisa saja disebabkan oleh
karena tidak adanya akses yang cukup terhadap bangunan konseptual yang dianut
di pemuda Muhammadiyah saat ini; khittah, anggaran dasar, dan anggaran rumah
tangga, atau bisa juga karena tidak adanya pergulatan yang intens dengan relasi
mobilitas antar generasi. Mereka sangat mungkin adalah orang-orang yang sedang
tersudut dipojok pergulatan dan kemudian tersesat melakukan pelabelan;
orang-orang yang rabun
realitas. Sungguh, ini tragika yang memilukan kalau tak sampai
hati untuk disebut memalukan.
Ketika
berhamburan realitas seperti sekarang ini, di mana yang bertarung dalam arena
suksesi adalah kader-kader berpartai, adalah kader-kader yang jadi saudagar,
adalah kader-kader yang pernah disepak keluar dari struktur karena membuat ‘marah
dan kecewa’ kelompok di Pemuda Muhammadiyah yang punya interest politik kuasa,
maka tentu saja itu merupakan hal yang tak perlu disikapi secara emotif
reaksioner dengan berkata; hati-hati politisasi, hati-hati money politics, hati-hati
pemanjaan finansial dengan mobilisasi peserta musywil melalui pembayaran SWO
(baca; Sumbangan Wajib Organisasi) oleh kandidat calon ketua, hati-hati dengan
karantina suara melalui karantina peserta musywil di hotel-hotel. Toh kita sesungguhnya
telah cukup lama memberi ruang untuk hal-hal sedemikian itu bertumbuh dengan
cukup cepat di tanah yang tak murni ini; pemuda
Muhammadiyah.
Situasi
yang sedang menggeliat menjelang Musywil Pemuda Muhammadiyah, memberi kita
bukan hanya kisruh kata-kata melainkan juga menurunkan chaos identifikasional dalam
ikhtiar mencari standar-standar etik dan filosofis baru dengan tergesa; seperti
menginci harapan dari cermin masa lalu. Sementara “…masa lalu tidak lagi memberi banyak jawaban, namun jauh
lebih banyak pertanyaan.” Maka pada akhirnya kita memang harus
menerima dengan hati yang tak perlu gemuruh, bahwa “entropi adalah fundamental. Semua membusuk. Kristal yang
tersusun sempurna pada akhirnya berubah menjadi partikel-partikel debu acak.”
Dan pemuda Muhammadiyah rasanya memang sedang terjerat dan disandra oleh suatu
situasi yang sesungguhnya telah lama disiapkan oleh kadernya sendiri; liturgi politik. Rumah
kultural kita sedang dihempas angin kering yang berdebu; ia menyumbat jalan
nafas kita. Mata memicing dan karena itu jalan kian nampak sempit. Selengkung
kilasan pesan sedang dipampang; menerima gelembung-gelembung persoalan yang
makin pekat lantas berkata lirih “kita
mesti memaafkan diri sendiri,” atau memang akhirnya kita harus
memilih jalan yang tak mudah untuk disepakati; “ayo kita berkelahi saja, sampai mati,” sebab “…tak ada yang lebih baik dari suatu
pertengkaran kecuali berbentuk kericuhan, dan tak ada kericuhan yang lebih baik
ketimbang sebuah revolusi.”
Kita
tahu, bahwa “Tuhan menyediakan
kriteria ideal untuk membuat keputusan-keputusan yang benar…menghilangkan
kekhawatiran yang disebabkan oleh kebingungan akan eksistensi dan
keterabaian.” Tetapi kita juga tahu sebuah identitas dan juga
nilai laksana benih; ia hanya akan tumbuh dengan baik jika ia ditabur di atas
tanah yang tak kerontang.
Maka pada
akhirnya, di tanah yang tak murni; Pemuda Muhammadiyah, kita harus berani
berkata; berhentilah berteriak soal politisasi, sebab jika kau tetap lakukan
itu, kau hanya akan terlihat seperti si munafik yang menyebalkan!
Berita, Hikmah
![]() |
| Ilustrasi gambar |
Menaggapi hal ini, Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Hadisaputra meminta kepada pemerintah untuk tidak sekadar mengedepankan pendekatan legalistik dan militeralistik dalam menyelesaikan persoalan tersebut.
Menurutnya, persoalan ini harus didekati dengan banyak pendekatan, baik secara ekonomi, budaya maupun agama. “Kemiskinan adalah ruang tumbuh suburnya radikalisme, sebab dalam kehidupan dunia ketika orang tidak memiliki harapan, maka disitulah kelompok radikal memanfaatkan kesempatan memberikan tawaran, baik secara ekonomi maupun secara ideologis,” jelas magister ilmu Antropologi Unhas ini.
Dalam pendekatan ekonomi lanjut Hadi, pemerintah juga mesti proaktif menjalankan program pemberdayaan masyarakat maupun program jaminan sosial dalam rangka menjamin kebutuhan dasar masyarakatnya.
Sementara itu pada pendekatan agama, pemerintah katanya harus melibatkan ormas Islam moderat seperti Muhammadiyah dan NU, ini untuk memasifikasi dakwah Islam rahmatan lilalamiin. “Jika pemerintah hanya mengandalkan pada aspek penindakan hukum dan militer saja, maka itu tidak akan menyelesaikan akar masalah, seperti kata pepatah, patah tumbuh hilang berganti, mati satu tumbuh seribu,” tutupnya. (KR)
Hikmah
Oleh : Rahmawati Idrus
(Ketua Bidang Hikmah dan Advokasi PW IPM Sul - Sel)
Apa yang ada dikepalamu saat ini
tentang valantine? Bunga mawar, coklat, parfume, baju couple, atau lokasi-lokasi
romantis? Saudaraku bisakah kau katakan apa itu valentine, ada apa dengan
valentine? Mengapa hari itu begitu diagung-agungkan? Bisakah kau meyakinkanku
bahwa hari itu adalah hari baik. Hari yang patut untuk kita rayakan
bersama. Seperti yang dilakukan oleh semua orang. Jelaskan
kepadaku kebaikan dan kebenaran yang terkandung dibalik hari itu, agar aku bisa
merayakannya, bersama engkau bersama semua orang yang dicinta. Sungguh aku tahu
bahwa cinta memang amat membuthkan kasih sayang. Aku juga teramat tahu bahwa
kebersamaan sangat diinginkan oleh setiap pasangan kekasih. Bahkan aku juga
sangat paham bahwa setia pasangan sangat mendambakan hadiah berkunjung ketempat-tempat yang indah bersama
sang kekasih dan menghabiskan waktu dengannya. Yah… aku paham itu dan aku
menegerti itu.
Namun, perlu kau tahu saudaraku,
adikku, sahabatku bahwa ketika engakau tiada bisa menunjukkannya atas kebenaran
yang terkandung di dalamnya, maka kuingin engkau memeluangkan waktumu sejenak
untuk memabaca coretanku ini. cinta
tidak hanya butuh dengan hal seperti itu, tetapi komitmenlah untuk menghlalkan
itu yang utama. Bukan hanya ketika hari jadian yang diperingati, hari ulang
tahun, dan bukan ketika hari pink yang dianggap sakral oleh para psangan muda
mudi. Sebuah hari yang identik dengan Pink, cokelat, bunga mawar, bahkan sebuah
hadiah yang sangat mahal dan tak mampu untuk kubahasakan kepadamu. Sebuah
mahkota yang takkan pernah terganti untuk selamanya harus raib satu malam hanya
sebagai wujud kecintaanya terhadap sang kekasih.
Saudaraku, adikku, sahabatku. aku
tak bermksud untuk mngguruimu atau melarangmu memberi hadiah antar sesame.
Hanya saja pernakah engkau tahu bahwa bukan kebenaran yang terkandung pada hari
itu, melainkan aib. Hari engkau sebut sebagai hari kasih dan sayang itu,
bukanlah demikian adanya. Pada hari kelahiran itu,bukan kasih maupun sayang melainkan
dua jabang bayi besar bernama syahwat dan nafsu. Dua jabang bayi itu terlahir
setelah membantai dengan keji dua jabang bayi lainnya yaitu akal dan pikiran.
Tahukah engkau bahwa akibat
kelahiran mereka, malam itu banyak sekali perzinahan dimana-mana. Tidak ada
lagi pemuda dan pemudi. Yang ada hanya binatang-binatang yang kawin tanpa rasa
malu. Dan semua itu diawali oleh sosok makhluk yang kini engkau sebut namanya
setiap “Tanggal 14 Februari”.
Maka katakanlah kepadaku bahwa
hari itu adalah hari baik. Hari bersejarah. Dan ajaklah aku merayakannya
bersama engkau. Bersama semua orang. Sehingga bersama-sama , kelak kita akan
meramaikan dengan apa yang kita kira itu cinta. Sehingga bersama-sama pula kita
larut dan meneggelamkan diri di dalamnya, Di dalam NerakaNya.
Saudaraku, adikku, sahabatku aku
tidak memintamu untuk menghentikan usahamu membangun silaturahim yang sudah
engkau rencanakan. Saling member itu mulia, dan menjaga silaturahim itu syurga.
Maka berikanlah cokelat-cokelat yang telah engkau siapkan atas nama rasa
persaudraan sesama umat islam dan sesama umat manusia. Dan jauhkanlah
niat-niatmu yang lain agar terlahir kembali dua jabang bayi yang telah mati,
akal dan pikiran.
Sungguh aku menulis coretan ini atas
nama kasih dan sayangku kepada engkau sebagai saudara seibu dan seayah, Adam
dan Hawa. Terahir, izinkan aku mengucapakn selamat hari kasih sayang setiap
waktu karena Allah. Sebab berkasih sayang antar sesame itu bukan hanya
ditanggal 14 Februari melainkan setiap menit, waktu, hari dan selamanya. Ketika
engkau tak mampu member makan tebarkanlah salam dan senyum sebagai wujud kasih
dan sayangmu…(RpB)
Hikmah
| Oleh: Hamzah Fanshury (Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah Sulsel) |
Ahmad Dahlan duduk di atas kereta di stasiun tugu Yogyakarta, dengan gundah dan geram yang menyerimpungnya. Ia dipojokkan oleh sebuah situasi; kongkurensi. Ya, di kereta yang sedang siap melaju berangkat itu, Ahmad Dahlan ingin pergi dari situasi yang tak menerima apa yang ditawarkannya; pembaharuan.
Langgar, atau Mushalla, tempat ia menyampaikan agama islam yang segar, islam yang hadir bagai ‘denting biola’ yang merdu, dibakar jadi abu oleh massa. Dan massa yang diamuk amarah, massa yang tak tertarik oleh agama yang datang bagai ‘denting biola’ itu, menyampirkan cap pada Ahmad Dahlan; kafir.
Ahmad Dahlan diusir. Tapi ia memiliki sedikit keluarga yang memberi bela. Dan pula ada seorang perempuan, istri yang tegar; Walidah. Dan segelintir teman yang ingin menghayati makna agama yang datang bagai ‘denting biola’ itu. Dan Ahmad Dahlan terbujuk untuk tak berangkat pergi.
Karena itulah Ahmad Dahlan beranjak meninggalkan tempat duduknya di atas kereta api; ia tak jadi pergi bersama gundah yang menyerimpungnya itu. Yang melaju bersama Ahmad Dahlan akhirnya bukan kereta api itu, melainkan sesuatu yang kini menjadi doktrin fundamental dalam organisasi yang telah melampaui usia satu abad; tajdid.
Tajdid adalah penghayatan dan pergulatan sekaligus. Penghayatan atas agama sebagai kesadaran personal, penghayatan atas agama sebagai pencerapan paling dasariah dalam hidup. pergulatan dengan diri yang me-realitas, diri yang terhubung dengan tata fenomena yang dialami dengan kompleksitas yang tidak senantiasa terdiferensiasi dengan jelas. Dengan redaksi yang simplisistik, meminjam terma yang digunakan Alfred North Whitehead dalam “Filsafat Proses”-nya, tajdid dalam Muhammadiyah bisa dikatakan sebagai causal efficacy; pengalaman kausal-intuitif.
Dalam Muhammadiyah tajdid barangkali sebaiknya diperlakukan seperti gradasi cahaya ‘pencerahan’ yang menembus abad, melintasi lapis generasi. Atau barangkali seperti yang digambarkan Plato dalam theaetetus-nya; “Engkau tak dapat mencebur dua kali ke dalam sungai yang sama, karena air segar senantiasa mengalir melintasimu.”
Dengan kata lain, tajdid dalam Muhammadiyah merupakan on going process. Dengan demikian tajdid bukan suatu ortodoksi, atau teks yang terperangkap dalam ruang waktu. Sehingga menjadi patut dan benar jika dalam Muhammadiyah hidup suatu kesadaran fundamental bahwa; hidup yang berputar dalam nukleus masa lalu adalah pertanda kematian peradaban.
Hidup dengan tajdid adalah hidup yang tak jatuh dalam isme ‘maa alfaina aabaa’anaa’; yang cukup dari warisan nenek moyang. Tetapi dengan keyakinan tajdid yang demikian itu, bukan berarti Muhammadiyah tidak memiliki kesadaran tentang relasi historis dengan ‘masa lalu’-nya, dengan elemen-elemen budaya dan atau wawasan-wawasan tradisi yang hidup dalam diri-nya (nya; Muhammadiyah). Elemen budaya dan wawasan tradisi ‘masa lalu’ itu diresepsi sebagai penghindaran dari jebakan eksklusivisme, atau meminjam eksplanasi Adonis dalam ‘Arkeologi Sejarah Pemikiran Arab Islam’: “elemen-elemen tersebut tidak memiliki nilai dari sisi bahwa elemen-elemen tersebut sudah berlalu, tetapi nilainya terletak pada kenyataan bahwa elemen-elemen tersebut menyimpan potensi untuk menerangi masa datang…sejauh mana kemampuannya untuk menjadi bagian dari masa datang.”
Ahmad Dahlan, dan agama yang datang bagai ‘denting biola’ adalah peristiwa yang meletakkan tanda (sign) untuk generasi Muhammadiyah kini dan yang akan tiba berikutnya bahwa keindahan lahir dari ‘percintaan’ senar dan nada, bunyi yang tersusun dari gesekan-gesekan sunyi; imaji. Dan di sana senantiasa hadir kebaruan yang menampik jenuh, menampik lusuh.
Demikianlah tajdid itu, di mana Muhammmadiyah “tak dapat mencebur dua kali ke dalam sungai yang sama, karena air segar senantiasa mengalir melintasi-nya.” Dan itu membutuhkan tidak hanya kecerdasan yang cukup, tapi juga keberanian yang rendah hati. Mungkin. (*)
Hikmah
ISBN: 9786029431278
Oktober 2013
Penerbit: Galang Pustaka
Ukuran: 15 x 23 cm
Halaman: 323
“Marhaenis
Muhammadiyah: Ajaran dan Pemikiran KH. Ahmad Dahlan” adalah hasil penelitian Abdul Munir
Mulkhan terhadap petani di
Wuluhan, Jember, Jawa Timur yang kemudian menjadi pengikut Muhammadiyah. Mereka
yang sebagian besar adalah kaum abangan yang banyak terlibat aktif di Partai
Nasional Indonesia (PNI)
tertarik dengan praktek keberagamaan dan
kehidupan sosial
Muhammadiyah. Menariknya, tradisi sosial –
budaya masyarakat abangan itu tidak hilang, tetapi justru memunculkan corak dan
makna keberagamaan baru dan mereka menjadi pengikut Muhammadiyah. Selanjutnya,
mereka kemudian diberi sebutan Marmud atau
Marhaenis Muhammadiyah.
Marmud adalah salah satu kelompok islam
dalam Muhammadiyah yang mengintegrasikan atau menginternalisasi hukum atau
doktrin syariah kedalam tradisi singkretik kehidupan mereka. Selain kelompok di
atas, ada juga yang disebut Muhammadiyah
Ikhlas, yakni reprentasi islam murni yang fundamentalis. Mereka menganggap
tarjih adalah produk paling ideal memuat hukum-hukum islam dan bekerja adalah kewajiban
agama (amaliah). Kelompok kedua adalah Muhammadiyah Kiai Dahlan, yaitu orang – orang yang juga menjalankan keberagamaan
sesuai tuntutan tarjih dan cukup toleran terhadap TBC. Mereka sebagian besar
adalah pegawai pemerintah dan termasuk pendukung partai golkar. Kehidupan
mereka relative lebih mapan dibandingkan dengan kelompok ikhlas. Kelompok
ketiga adalah Muhammadiyah
Neotradisionalis atau Munu (Muhammadiyah NU) yang mayoritas petani.
Kelompok ini secara umum masih memelihara praktik TBC dalam kehidupan sehari –
hari. Bagi kelompok ini, tuhan lebih kompromis, pendengar dan penerima do’a. Mereka
menganggap ‘orang saleh’ dalam lembaga tampak lebih magis, yaitu penyambung
kepada tuhan. Kelompok ini masih sering melakukan slametan dan tahlilan.
Sebutan dari masing – masing kelompok itu merupakan kategorisasi dari yang
puritan skriptualis, substansial, neotradisionalis, dan neosinkretis.
Selain pembagian empat jenis orang MD
di atas, buku ini juga merekam jejak ajaran dan pemikiran ‘’spiritualisme ‘hati
suci’’ K.H. Ahmad Dahlan yang sangat toleran, tetapi dibelokkan oleh para elit
(Muhammadiyah) yang didominasi oleh ahli syariah. Mereka ingin memusnahkan TBC
(tahyul, bid’ah, dan khurafat) sampai pada akarnya, bahkan
dengan cara-cara kekerasan sekalipun demi tegaknya syariah. Maka Muhammadiyah
pernah menjadi buldooser kebudayaan.
Sangat berbeda dengan pola pemurnian
islam yang dibawa oleh K.H. Ahmad Dahlan yang mengedepankan kesalehan
spiritual, yang kemudian melahirkan ragam model kebermuhammadiyahan. Bagi kaum
tani, menjadi Muhammadiyah akan memiliki arti sesuai makna dunia magis, bukan
etis. Upacara Ritual TBC, diubah maknanya sebagai tradisi dan media berbakti
kepada ‘orang tua’ atau membangun jaringan dakwah. TBC tidak serta merta
ditolak, tetapi Islam murni dipribumisasi,
sehingga taklid, slametan kematian,
dan tahlilan merupakan gejala umum
yang dianut gerakan ini.
Ada dua hal yang
mungkin tak ditangkap buku ini, pertama adalah apa yang telah dilakukan para
petani di Wuluhan juga mengandung spirit tajdid
yang cukup revolusioner. Mengintegrasikan antara ajaran agama dan kultur
yang berkembang di masyarakat demi kepentingan bersama. Kedua adalah bahwa di
daerah lain kemungkinan besar juga terjadi hal demikian, banyaknya masyarakat
yang bergabung ke Muhammadiyah dengan ragam kepentingan, entah itu kepentingan
politik praktis ataupun hal- hal yang bersifat pragmatis. (Sahrul)
