INFO PASANG IKLAN
"Pasang iklan harga terjangkau, Laku barangta beramalki juga". Minat, Hubungi Manajer Iklan Dhadhe 085342448624 atau PIN BB 2931CE74
Popular Posts
-
Hadisaputra, M.Si,dan Nurhikmawaty Hasbiah bersama Ketua PWM Sulsel, Dr Muh Alwi Uddin (foto:ist)
-
Opini Oleh : Nur Faizah Anshar Korupsi, sebuah kata yang tentu tak asing lagi bagi kita. Di semua pemberitaan baik media elektronik maup...
-
Aksi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Rabu, 20 Mei 2015(Foto:fb)
-
Syaharaddin Alrif, S. Sos (Foto : ist) Syaharuddin Alrif akhirnya ditetapkan sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjend) Pimpinan Pusat...
-
Logo Musykom IMM FKIP Unismuh Makassar, Khittah - Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Keguruan dan Ilm...
CB Magazine »
Hikmah
»
Pemuda Muhammadiyah & Kemunafikan Kita
Pemuda Muhammadiyah & Kemunafikan Kita
Posted by CB Magazine on Senin, 20 April 2015 |
Hikmah
Oleh: Hamzah Fanshury
“…ini telah digariskan, biarlah terjadi !
Aku tak usah ikut campur dalam urusan
Tuhan.”[Victor
Hugo]
Sebuah
identitas sedang terjebak dalam logika yang krisis; pemuda Muhammadiyah. Logika yang tak kuasa
menampik konstanta fakta-fakta yang ambigu, saat sebuah kondisi terseret-seret
dalam alur yang sophisticated;
di sana, dalam pemuda Muhammadiyah, kian banyak gejala yang sulit dicandra.
Kata-kata berseliweran pada horison yang labil, yang saling beririsan tanpa textum penanda, tanpa
referensi data gagasan dan laku, yang kita pungut dan kita himpun dari
pedalaman sejarah. Dengan nalar kader yang tanpa reference itu, para kader pemuda Muhammadiyah
seakan sedang mencoba menggenggam angin, memberi nama pada absurditas. Tentu
saja yang akan ditemui hanyalah gejala; sekumpulan gejala yang kisruh. Tapi toh
kita tak mesti mengalami nightmare
karena persoalan-persoalan yang tak mudah diformulasi dan dicarikan
jawab di tanah yang sedang goyah ini; pemuda
Muhammadiyah.
Menunjuk
pada sebuah waktu yang telah menjadi lampau, 2 mei 1932 masehi bertepatan
dengan 26 Dzulhijjah 1350 hijriah, pemuda Muhammadiyah digagas yang akhirnya
menjadi ruas cerita yang menandai identitas orang perorang, merangkumnya dalam
frekwensi idea yang sama pada ranah komunal; kader.
Terma kader adalah spektrum nilai yang menyambungkan setiap orang tanpa
terjebak oleh segregasi ruang waktu. Artinya setiap kader boleh dan absah untuk
menjelajah dan ziarah pada medan realitas mana saja, tetapi identitas dan nilai
kader tak dibiarkan mengalami kedunguan
kultural. Pemuda Muhammadiyah sebagai idea memberi kemampuan pada
kader untuk membangun latar asumsi dan perspektif yang khas, membingkai alam
pikiran setiap warganya dalam interaksi apa saja dan di mana saja.
Rasanya
perlu memberi sedikit eksplanasi tentang apa itu nilai dan apa itu identitas. Nilai yang dimaksudkan
dalam tulisan ini adalah sistem keyakinan (belief
system) yang relatif stabil mengenai suatu objek di mana ia berperan
mempengaruhi sikap batin kita dalam memandang dan memberi atribut terhadap
objek atau realitas itu. Sebuah nilai tidak berada dalam tata yang vakum, ia
menenggang konteks dan zaman; gerak yang tak henti untuk terus menemu jadi.
Sebaris on going process. Dengan
kata lain, kita tak bisa menampik perubahan dalam garba kehidupan yang bisa
mengabarkan kesenjangan, disintegrasi, krisis, kecacatan, dan mengancam
runtuhnya bangunan nilai yang telah dikonseptualisasi. Karena itu perlu ada
kesadaran limit atas sebuah konsepsi dan paradigma. Dalam penjelasan Thomas S.
Kuhn, paradigma adalah sebuah lingkaran sains yang tak mengalami kata sudah dan
henti dalam berpendar dan berputar. Bergerak mendalami logika demi logika
realitas. Kesadaran limit konseptual dan paradigma penting agar kita tak
terjebak dalam eksklusivisme anutan nilai.
Identitas bermakna bahwa ada
kesadaran akan diri, atau sebentuk imajinasi tentang sosok seperti apa diri
dalam kancah hidup. Dalam pandangan Anthoni Giddens, salah satu karakter kunci
dari modernitas adalah apa yang disebut ‘proyeksi
refleksif dari diri’ di mana individu bercermin pada identitas
mereka sendiri sambil ia terus menerus melakukan konstruksi atasnya.
Sebagaimana nilai, identitas juga mengalami ketegangan dan pemuaian dalam
proses-proses kemenjadiannya yang melibatkan negosiasi (;teori ini berutang
banyak pada pemikiran George H. Mead) antara diri dan pihak eksternal; sahabat,
lingkungan tempat tinggal dan bertumbuh, dan juga bacaan.
Eksplanasi
sederhana di atas dirasa penting sebab hari-hari menjelang suksesi kepemimpinan
tingkat wilayah di pemuda Muhammadiyah, tiba-tiba saja terdengar sebagian orang
mulai ramai berteriak-teriak tentang nilai dan identitas kader pemuda
Muhammadiyah. Idealisme dan pragmatisme mulai diungkit dan disengketakan; riuh
yang tiba-tiba dan lucu. Betapa tidak, ada deret waktu yang kita lewati, yang
bukan hanya hitungan hari melainkan dekade dalam pemuda Muhammadiyah, tetapi
siapa di antara kader yang rela berkeringat memeras nalar dan melakukan
refleksi eidos; melakukan
pencarian atas pemberi bentuk dan kondisi yang khas dari pemuda Muhammadiyah
sebagai entitas partikular dalam jagad keindonesiaan dan kemanusiaan? Nyaris tidak
ada. Setiap perhelatan permusyawaratan perbincangan tentang gagasan konseptual
yang akan menjadi basis dan bingkai gerakan selalu mengalami periferalisasi;
diskursus yang pinggiran. Tak menarik dan tak menggairahkan. Tak mengundang
hasrat dan tak membangkitkan libido.
Kader-kader
pemuda Muhammadiyah yang seakan
dilepaskan dari kerangka dan postulasi idea yang tertata, niscaya akan
mengalami kebingungan ‘defenition
of the situation’ yang akut. Mereka yang berteriak-teriak tentang
friksi kader yang ‘telah’ berpartai dan kader yang tidak berpartai, tentang
kader yang ideologis dan kader yang pragmatis, adalah orang-orang yang terjebak
dalam sebentuk pelabelan. Dan dalam labelling
theory (H.S. becker;1963) pelabelan menciptakan atau memperbesar
penyimpangan. Terantuknya mereka pada pelabelan bisa saja disebabkan oleh
karena tidak adanya akses yang cukup terhadap bangunan konseptual yang dianut
di pemuda Muhammadiyah saat ini; khittah, anggaran dasar, dan anggaran rumah
tangga, atau bisa juga karena tidak adanya pergulatan yang intens dengan relasi
mobilitas antar generasi. Mereka sangat mungkin adalah orang-orang yang sedang
tersudut dipojok pergulatan dan kemudian tersesat melakukan pelabelan;
orang-orang yang rabun
realitas. Sungguh, ini tragika yang memilukan kalau tak sampai
hati untuk disebut memalukan.
Ketika
berhamburan realitas seperti sekarang ini, di mana yang bertarung dalam arena
suksesi adalah kader-kader berpartai, adalah kader-kader yang jadi saudagar,
adalah kader-kader yang pernah disepak keluar dari struktur karena membuat ‘marah
dan kecewa’ kelompok di Pemuda Muhammadiyah yang punya interest politik kuasa,
maka tentu saja itu merupakan hal yang tak perlu disikapi secara emotif
reaksioner dengan berkata; hati-hati politisasi, hati-hati money politics, hati-hati
pemanjaan finansial dengan mobilisasi peserta musywil melalui pembayaran SWO
(baca; Sumbangan Wajib Organisasi) oleh kandidat calon ketua, hati-hati dengan
karantina suara melalui karantina peserta musywil di hotel-hotel. Toh kita sesungguhnya
telah cukup lama memberi ruang untuk hal-hal sedemikian itu bertumbuh dengan
cukup cepat di tanah yang tak murni ini; pemuda
Muhammadiyah.
Situasi
yang sedang menggeliat menjelang Musywil Pemuda Muhammadiyah, memberi kita
bukan hanya kisruh kata-kata melainkan juga menurunkan chaos identifikasional dalam
ikhtiar mencari standar-standar etik dan filosofis baru dengan tergesa; seperti
menginci harapan dari cermin masa lalu. Sementara “…masa lalu tidak lagi memberi banyak jawaban, namun jauh
lebih banyak pertanyaan.” Maka pada akhirnya kita memang harus
menerima dengan hati yang tak perlu gemuruh, bahwa “entropi adalah fundamental. Semua membusuk. Kristal yang
tersusun sempurna pada akhirnya berubah menjadi partikel-partikel debu acak.”
Dan pemuda Muhammadiyah rasanya memang sedang terjerat dan disandra oleh suatu
situasi yang sesungguhnya telah lama disiapkan oleh kadernya sendiri; liturgi politik. Rumah
kultural kita sedang dihempas angin kering yang berdebu; ia menyumbat jalan
nafas kita. Mata memicing dan karena itu jalan kian nampak sempit. Selengkung
kilasan pesan sedang dipampang; menerima gelembung-gelembung persoalan yang
makin pekat lantas berkata lirih “kita
mesti memaafkan diri sendiri,” atau memang akhirnya kita harus
memilih jalan yang tak mudah untuk disepakati; “ayo kita berkelahi saja, sampai mati,” sebab “…tak ada yang lebih baik dari suatu
pertengkaran kecuali berbentuk kericuhan, dan tak ada kericuhan yang lebih baik
ketimbang sebuah revolusi.”
Kita
tahu, bahwa “Tuhan menyediakan
kriteria ideal untuk membuat keputusan-keputusan yang benar…menghilangkan
kekhawatiran yang disebabkan oleh kebingungan akan eksistensi dan
keterabaian.” Tetapi kita juga tahu sebuah identitas dan juga
nilai laksana benih; ia hanya akan tumbuh dengan baik jika ia ditabur di atas
tanah yang tak kerontang.
Maka pada
akhirnya, di tanah yang tak murni; Pemuda Muhammadiyah, kita harus berani
berkata; berhentilah berteriak soal politisasi, sebab jika kau tetap lakukan
itu, kau hanya akan terlihat seperti si munafik yang menyebalkan!

Tidak ada komentar: