INFO PASANG IKLAN
"Pasang iklan harga terjangkau, Laku barangta beramalki juga". Minat, Hubungi Manajer Iklan Dhadhe 085342448624 atau PIN BB 2931CE74
Popular Posts
-
Hadisaputra, M.Si,dan Nurhikmawaty Hasbiah bersama Ketua PWM Sulsel, Dr Muh Alwi Uddin (foto:ist)
-
Opini Oleh : Nur Faizah Anshar Korupsi, sebuah kata yang tentu tak asing lagi bagi kita. Di semua pemberitaan baik media elektronik maup...
-
Aksi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Rabu, 20 Mei 2015(Foto:fb)
-
Syaharaddin Alrif, S. Sos (Foto : ist) Syaharuddin Alrif akhirnya ditetapkan sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjend) Pimpinan Pusat...
-
Logo Musykom IMM FKIP Unismuh Makassar, Khittah - Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Keguruan dan Ilm...
CB Magazine »
Tokoh
»
Jelang Muktamar Muhammadiyah 2015, Ini Masukan Prof. Qasim Mathar
Jelang Muktamar Muhammadiyah 2015, Ini Masukan Prof. Qasim Mathar
Posted by CB Magazine on Senin, 29 Desember 2014 |
Tokoh
| Prof. Dr. Moh. Qasim Mathar, MA. (Guru Besar UIN Alauddin) |
Muhammadiyah adalah Gerakan Islam yang sering disebut oleh para peneliti sebagai gerakan modernis. Predikat ini direngkuh karena gerakan ini sejak awal kelahirannya selalu menawarkan gagasan pembaruan dalam berbagai dimensi kehidupan. Persyarikatan yang didirikan Kiai Dahlan ini telah menginjak usia 102 tahun dalam kalender Masehi, atau 105 tahun dalam hitungan penanggalan Hijriyah. Tahun depan, 2015, Muhammadiyah akan menggelar Muktamar di Makassar. Sejauhmana pengamat melihat eksistensi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modernis yang memiliki watak pembaruan ini? Khittah kali ini, menyambangi kediaman Guru Besar UIN Alauddin, Prof. Dr. Qasim Mathar. Berikut petikan wawancaranya:
Bagaimana pendapat Anda tentang modernitas Muhammadiyah saat ini?
Muhammadiyah memang lahir sebagai gerakan modern. Muhammadiyah tidak lahir sebagai kelompok revival. Akan tetapi, sekarang, seiring berjalannya waktu, Muhammadiyah, sepertinya berubah menjadi gerakan Wahabi. Reaktif terhadap gagasan-gagasan ke-Islaman, dia ingin kembali seperti pada masa nabi. Itu Wahabisme dan Wahabisme itu bukan gerakan modern, melainkan kelompok revivalisme. Muhammadiyah sekarang itu ya seperti wahabi, revival.
Apa indikasi yang Anda lihat sehingga menyebut Muhammadiyah sekarang revivalis?
Revivalisme itu selalu ingin mengoreksi keadaan sekarang untuk dikembalikan seperti pada masa nabi. Ada yang disebut kembali ke kaum salaf atau yang sering disebut salafi. Muhammadiyah keliatan seperti itu sekarang, revivalis, salafi. Indikasinya, kalau ada gagasan-gagasan ke-Islaman yang baru, Muhammadiyah keliatan takut atau “sensitif” dengan gagasan ke-Islaman yang baru itu.
Bagaimana anda memandang ijtihad yang dilakukan Muhammadiyah saat ini?
Bagaimana mau ijtihad? Tidak mungkin dengan pemikiran tertutup seperti itu. Muhammadiyah sekarang tidak ada pemahaman Islamnya atau tafsir yang mengundang kegegeran. Ijtihad itu suatu pendapat keagamaan yang baru, yang berbeda dari pendapat sebelumnya. Bisa dicek, apakah Muhammadiyah memiliki Mujtahid seperti zaman saya masih muda, seperti Dr. S. Madjidi. Ketua Majelis Tarjih, Dr. S. Madjidi itu punya pemikiran-pemikiran keagamaan yang unik. Dia orang tarjih tapi dalam satu-dua hal tidak mengikuti tarjih kalau itu tidak sesuai dengan pemahamannya. Sekarang kan sudah tidak ada lagi yang seperti dia. Bagaimana bisa Muhammadiyah melahirkan mujtahid kalau Muhammadiyah selalu kuatir, takut terhadap perkembangan pemikiran-pemikiran Islam baru?
Kalau begitu, bagaimana seharusnya Majelis Tarjih Muhammadiyah?
Saya dengar Muhammadiyah sering mengundang pakar berbagai bidang untuk membincang masalah. Saya juga orang Tarjih Muhammadiyah, tapi barangkali memang tidak pernah diundang. Tapi, mungkin saja, tokoh dari berbagai bidang yang diundang oleh Muhammadiyah itu adalah orang-orang yang dianggap oleh Majelis Tarjih sejalan dengan Muhammadiyah, sejalan dengan pemikirannya. Sebaiknya, justru Muhammadiyah itu mengundang yang tidak sejalan, Syiah mungkin atau Ahmadiyah. Syiah dan Ahmadiyah kan bukan NU yang tidak terlalu bertentangan dengan Muhammadiyah.
Muhammadiyah juga harus mengundang orang-orang atau ulama-ulama yang pemikirannya itu modern, progresif, atau yang sering mengkritik Muhammadiyah, agar lahir fatwa yang menggigit. Muhammadiyah harus membuka pintu penafsiran Alquran itu seluas-luasnya. Bisa saja dengan begitu, justru lahir penafsiran baru yang tidak pernah terpikirkan oleh mufassir terdahulu.
Muhammadiyah dinilai banyak kalangan terlalu sibuk mengurus amal usaha, sehingga abai dengan pengembangan pemikiran. Bagaimana tanggapan Anda?
Bagus. Muhammadiyah memang harus sibuk dengan aktivitas sosialnya. Justru itulah yang membuat Muhammadiyah maju. Hanya saja harus diubah pemikiran yang menjadi alasan pendirian amal usaha itu. Pemikiran Islam yang menjadi alasan pelasanaan aktivitas sosial Muhammadiyah harus diubah. Pernah saya diundang untuk membacakan khutbah Idul Fitri di suatu daerah. Sebelum saya berkhutbah, Ketua Muhammadiyah daerah itu disilakan membawakan sambutan. Kebetulan saat itu dirangkaikan juga dengan peresmian rumah sakit Muhamamdiyah. Di sambutannya, Ketua Muhammadiyah itu menyebutkan bahwa alasan pendirian rumah sakit itu adalah untuk melawan rumah sakit orang kristen. Itu tentu pemikiran yang salah. Pelayanan kesehatan itu tidak melihat agama. Dalam kesehatan itu kita menolong siapa saja yang menderita tanpa melihat agama dan orang apa dia. Bahkan jika orang itu memusuhi kita, sementara kita tahu dia sakit, kita tetap harus menolongnya. Ini perintah agama! Ini pemikiran Islam tentang rumah sakit. Saya langsung mengubah khutbah yang sudah saya rencanakan lalu menyampaikan hal ini. Rumah sakit itu untuk kemanusiaan, tanpa melihat agama apa dia.
Kalau begitu, agar Muhammadiyah semakin maju, amal usaha apa yang perlu diprioritaskan oleh Muhammadiyah?
Muhammadiyah harus punya media massa! Iya, Muhammadiyah punya majalah, tapi seberapa jauh majalah itu memengaruhi masyarakat? Bahkan orang Muhammadiyah sendiri tidak dipengaruhi oleh majalah itu. Berapa orang Muhammadiyah yang berlangganan majalah itu? Muhammadiyah juga sudah harus punya televisi yang berpengaruh di masyarakat, seperti TV nasional sekarang atau TV lokal yang memengaruhi masyarakat. Muhammadiyah punya banyak uang untuk mengadakan itu.
Dulu, Muhammadiyah di Makassar itu punya radio Al-Ikhwan di ta’mirul masajid. Radio itu dulu sangat memngaruhi masyarakat. Lagu qasidah yang diputar pagi hari oleh al-ikhwan itulah lagu yang dinyanyikan anak-anak di sore hari. Melalui radio itu juga Muhammadiyah melalui Fathul Muin Dg. Maggading memengaruhi pemikiran keagamaan masyarakat. Muhammadiyah sudah harus punya amal usaha media massa yang berpengaruh di masyarakat! (Fikar)

Tidak ada komentar: