INFO PASANG IKLAN
"Pasang iklan harga terjangkau, Laku barangta beramalki juga". Minat, Hubungi Manajer Iklan Dhadhe 085342448624 atau PIN BB 2931CE74
Popular Posts
-
Hadisaputra, M.Si,dan Nurhikmawaty Hasbiah bersama Ketua PWM Sulsel, Dr Muh Alwi Uddin (foto:ist)
-
Opini Oleh : Nur Faizah Anshar Korupsi, sebuah kata yang tentu tak asing lagi bagi kita. Di semua pemberitaan baik media elektronik maup...
-
Aksi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Rabu, 20 Mei 2015(Foto:fb)
-
Syaharaddin Alrif, S. Sos (Foto : ist) Syaharuddin Alrif akhirnya ditetapkan sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjend) Pimpinan Pusat...
-
Logo Musykom IMM FKIP Unismuh Makassar, Khittah - Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Keguruan dan Ilm...
Baru, Literasi
Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi modern yang sejak tumbuhnya sudah sangat akrab dengan tradisi literasi. Bahkan dalam pengamatan Dr Sabri Ar, Muhammadiyah adalah salah satu ormas yang hingga kini secara konsisten menerbitkan sejumlah jurnal yang berbasis kampus, buku serta sejumlah majalah. Tentu hal ini menunjukkan bahwa organisasi yang kini telah berusia lebih dari satu abad memang tak pernah lepas dari tradisi tersebut. Tapi persolan kini mengemuka, muncul pertanyaan bahwa tradisi literasi yang telah lama tumbuh ini apakah akan tetap mampu dipertahankan dimasa yang akan datang? Tentu aktivitas literasi di kalangan angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) adalah salah satu gambaran tolak ukurnya.
Ketua umum Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Sulawesi Selatan, Elly Oscar mengungkapkan bahwa kesadaran literasi di organisasi yang dipimpinnya cukup mengalami perkembangan. Hal ini menurutnya dilihat dari ghiroh membaca kader IPM yang saat ini terbangun dengan cukup baik.
“Di beberapa tempat kami membuat kajian buku yang rutin disetiap pekannya, dengan cara setiap kader harus mempresentasikan hasil bacaanya, satu buku satu kader perpekannya, saya kira ini adalah langkah awal yang baik,” tuturya optimis.
Akan tetapi terkait minat menulis Elly mengakui bahwa kader IPM Sulsel sampai saat ini masih dihitung jari yang dapat mempublikasikan tulisannya. Dalam bentuk buku ataupun di media, baik itu di media cetak maupun online. “Jumlahnya masih sedikit, tapi kita sudah sementara dalam proses membangun hal tersebut. Langkah awal IPM Sulsel telah menyediakan website khusus yang dapat dijadikan sebagai wadah kader dalam menuangkan gagasannya,” Jelasnya.
Sementara itu, Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sulselbar, Nirwana menyatakan bahwa IMM sendiri jauh hari telah menyadari pentingnya kesadaran literasi dalam mengusung sebuah misi gerakan. “Misi IMM adalah bertanggungjawab untuk meretas berbagai persoalan umat, maka dibutuhkan sebuah aksi nyata, bukan hanya berkutat pada apologi intelektual, sehingga tradisi literasi ini menjadi sebuah keharusan bagi kader IMM,” urainya.
Terkait minat baca kader IMM, Nirwana menjelaskan bahwa kader IMM cukup antusias, bahkan hasil bacaan tersebut didiskusikan dalam bentuk komunitas – komunitas kajian yang berbasis di level pimpinan komisariat maupun pimpinan cabang.
“Untuk membangun tradisi membaca, kami telah memprogramkan one book one week, mereka membaca dan membedah. Meskipun hal ini belum merata diseluruh kader IMM yang ada di Sulsel, tetapi kedepan kita mengharapkan kader IMM bisa saling memotivasi untuk meningkatkan budaya membaca. Membaca adalah modal awal yang harus kita miliki sebagai agent of change, apalagi pada posisi IMM sebagai masyarakat kampus,” jelasnya.
Nirwana melanjutkan bahwa terkait tradisi menulis, dia mangakui, belum banyak karya kader IMM khususnya Sulsel yang bisa dinikmati baik itu berupa buku atau tulisan yang terbit dimedia. “Namun sejauh ini sudah ada beberapa di antara kader yang telah mampu mendokumentasikan pemikiran – pemikirannya dipublik, misalnya saja menulis di media cetak dan membuat buku baik individu maupun kompilasi buku berupa rekam jejak pengalaman mereka dalam ber IMM serta menerbitkan buletin mingguan, ini bisa ditemui dilevel komisariat maupun cabang yang di isi sendiri oleh kader – kader.”
Oleh karena itu lanjut Nirwana, saat ini melalui bidang riset dan pengembangan keilmuan Cabang dan DPD juga telah membentuk sekolah paradigma. Pembentukan sekolah paradigma ini sebagai bentuk nyata pencerdasan kader –kader IMM dengan menstimulasi pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dalam membangun kultur literasi.
“Saat ini bidang riset dan pengembangan keilmuan sedang dalam proses pembuatan buku yang merujuk pada tiga kajian pokok sekolah paradigma IMM yakni ideologi, filsafat dan kepemimpinan, begitupun bidang seni budaya dan olahraga sedang memproses sebuah buku yang berbicara Islam dan kebudayaan di Sulsel,” tambahya.
Ketua Nasyitul Aisyiyah (NA) Sulsel, Eka Damayanti mengatakan bahwa di Ortom yang dipimpinnya sendiri juga budaya literasi telah terbangun sejak awal karena membaca dianggap sebagai sebuah kebutuhan dan tuntutan profesi.
“Jadi kalau di NA memang kumpulan ibu-ibu muda, jadi dia mau tidak mau membaca itu adalah hal yang wajib. Membaca juga adalah untuk mendukung pekerjaannya. Tidak mungkin kalau misalnya guru atau dosen kurang membaca? Atau dokter tidak membaca?” urainya.
Menyinggung budaya menulis, Eka mengungkap kalau kader NA sendiri untuk kenasyiahan belum ada buku yang diterbitkan. “Akan tetapi secara person sudah ada beberapa, sejauh ini sudah ada 4 buku yang diterbitakan, termasuk buku saya sendiri.”
Nasyiatul Aisyiah sendiri lanjut Eka, rencana akhir periode kepengurusannya nanati akan menerbitkan buku internal tentang NA dari Masa ke Masa, Sejerah NA di Sulsel serta kumpulan catatan hasil kajian bersama KH. Djamaluddin Amien.
Berbeda dengan IPM, IMM, dan NA, Ketua Pimpinan Wilyah (PW) Pemuda Muhammadiyah, Syaharuddin Alrif menyadari bahwa di Pemuda Muhammadiyah sendiri budaya literasi secara kelembagaan tidak terlalu menonjol karena tidak ada bidang yang menangani secara khusus terkait literasi. “Kalau di Pemuda Muhammadiyah memang sedikit, mungkin sekitar 2 sampai tiga orang, itupun secara personal, kalau yang dikenal itu seperti Hadisaputra dan Mucktar Tompo. Yang jelas kultur intelektual terbangun di Pemuda Muhammadiyah, jadi mungkin persoalan waktu luang saja sehingga yang lain belum sempat menulis,” kata Syahar. (Kasri)
Baru
Maros. Khittah- Jelang pemantapan Jambore Nasional Hizbul Wathan (HW) bulan Agustus Mendatang, pimpinan Kuwarca pusat beserta rombongan pengurus wilayah dan panitia lokal menhadiri audience bersama bupati Maros di Aula Pendopo utama Kantor Bupati Kabupaten Maros. Selasa, (03/03).
Dahlan Raes selaku penanggungjawab panitia pusat, menyampaikan dihadapan para audience bahwa jambore HW merupakan bagian syi'ar Muktamar Muhammadiyah, maka sepatutnya jambore tersebut dapat mensukseskan Muktamar Muhammadiyah. " ini bagian dari Dakwah, kita perlu kesipan penuh dan kerjasama agar bisa bersinergi dalam menyiapkan segala kebutuhan peserta nantinya. sukses Muktamar, sukses Jambore saya rasa itu tujuan kita bersama". ujarnya.
Panitia lokal juga menyampaikan kesiapannya untuk menerima para peserta sebanyak empat ribu orang akan memadati kabupaten Maros mendatang. " Untuk loksai itu sudah Fix dilaksanakan di Taman Nasional Bantimurung dengan kapasitas daya tampung kurang lebih sepuluh ribu orang. sementara untuk jarak dari kota sekitar 12 Km ", terangnya ditengah-tengah audience.
Berbagai tehnis pun telah dibicarakan baik panlok, wilayah dan pusat masing masing mengutamakan beberapa komponen yang wajib dianggap ada dilokasi jambore seperti, Air, MCK, penerangan, Keamanan, poliklinik, transportasi serta penyediaan konsumsi. "Kesediaan transportasi juga sangat dibutuhkan karena selama enam hari, kurang dari seribu orang akan dibawa ke Trans Studio Makassar", tambah Romandani Subur.
Sementara itu, pimpinan daerah Aisyiyah Maros menyatakan kesiapannya membantu jambore nasional tersebut dengan menyiapkan Kantin Terjangku Aisyiyah (KTA). Menu yang disajikan adalah paket hemat agar peserta bisa sedikit terbantu mengingat Sumbangan Wajib Personal (SWP) senilai Rp.400.000,-
Laporan: Rahmawati Idrus
Baru, Berita
------------------
Baru, Fikrah
Opini
Oleh : Nur Faizah Anshar

Korupsi, sebuah kata yang tentu tak asing lagi bagi kita. Di semua pemberitaan baik media elektronik maupun cetak dia senantiasa hadir mewarnai wacana publik. Korupsi menjadi begitu akrab ditelinga semua orang. Pejabat dari tingkat kelurahan sampai tingkat menteri telah banyak yang terlibat korupsi. Pertanyaan muncul kemudian dalam benak kita, insan yang merasa berakal sehat, bertanya dimana rasa malu para sang koruptor?
Hilangnya rasa malu, hilangnya harga diri, hilangnya kehidupan? Keserakahan telah menenggelamkan rasa malu para koruptor. Ketua KPK Abraham Samad mengatakan “Semua para koruptor itu telah memiliki gaji dan harta yang cukup banyak, tetapi kenapa mereka masih juga melakukan korupsi? Jawabnya hanya satu “KESERAKAHAN”.
Lihatlah dilayar TV ketika Sang koruptor ditangkap oleh KPK dengan percaya diri dan senyum yang lebar penuh bahagia tanpa beban menjawab pertanyaan para wartawan. Sekilas kita berpikir jika korupsi itu hal yang biasa saja, karena para sang koruptor masih bisa tersenyum meski telah mencuri uang rakyat. Masihkah kita bisa berharap koruptor akan hilang dibumi pertiwi yang sebagian besar beragama Islam?
Memang tidak ada rasa malu para koruptor di Indonesia. Padahal diluar negeri, seperti contoh, Presiden Jerman Christian Wulff memberikan pelajaran kepada para pejabat negara yang korupsi. Wulff memilih mundur dari jabatan presiden karena malu diberitakan skandal korupsinya. Wulff diduga menerima fasilitas saat meminjam dana dari bank untuk mencicil rumahnya sebelum menjadi presiden. Adakah pejabat di negeri ini seperti Wulff berani mengundurkan diri? Pada hal rakyat Jerman tidak ada yang memintanya untuk mundur.
Bila di Indonesia sudah didesak untuk mundur masih saja berkilah dengan alasan belum cukup bukti yang kuat. Berkilah, tidak ada Undang-Undang yang mengatur dirinya harus mengundurkan diri dari jabatannya. Bermacam spekulasi dilontarkan sebagai satu tanda memang rasa malu itu telah hilang.
Hebatnya lagi, ketika para pejabat di luar negeri mengundurkan diri karena diduga melakukan tindak korupsi bukan karena ada Undang-Undang yang mengaturnya akan tetapi karena masih memiliki moral, etika dan rasa malu. Mereka sadar apa yang dilakukan merupakan sesuatu yang memalukan maka tidak ada pilihan lain harus segera mengundurkan diri. Namun, rasa malu itu sudah langka buat para pejabat di negeri ini.
Hingga saat ini hal yang masih menjadi kendala korupsi di Indonesia adalah hukuman bagi para koruptor yang masih terlalu ringan, sehingga belum membuat efek jera bagi para koruptor. Jika dikaitkan dengan agama tentu saja korupsi pasti suatu hal yang dilarang, karena korupsi dalam agama yang berarti mengambil hak milik orang lain (mencuri). “Janganlah kamu memakan harta orang lain dengan cara yang bathil”. Al-quran mengajarkan kita untuk mencari rezeki yang halal.
Koruptor masih bisa diberantas jika para orang tua, pendidik dan pemimpin bangsa masih sadar akan tanggung jawabnya. Orang tua tidak hanya memberikan keperluan fisik sang anak tapi juga psikisnya. Pantaulah sang anak Imannya, ibadahnya, ilmunya dan akhlaknya. Anak tidak hanya diberi uang SPP setiap bulan tapi juga tanyakan apa yang telah dipelajarinya, apa yang telah dilakukannya di sekolah dan lingkungan sekitarnya. Tanyakan pula apakah dia sudah shalat, untuk apa dia shalat? Sentuhan-setuhan pertanyaan inilah yang akan menjadi perekat dalam hidup sang buah hati dalam melangkahkan kakinya dengan pasti menuju masa depan yang tidak pasti. Ajarilah sang buah hati sejak dini karakter-karakter dengan contoh dan teladan sang Bunda.
Andi Noya saat mewawancarai Ketua KPK Abraham Samad dalam acara KICK ANDY tentang pendidikan, bertanya “apa yang telah diberikan oleh Sang Bunda pak Abraham?” Dia katakan sejak kecil bunda saya selalu menanamkan kalimat ini “Jangan pernah mengambil barang orang meskipun barang itu tidak berharga”. Nasehat sang Bunda pak Abraham ini cukup penuh makna. Mengambil sesuatu yang bukan milik kita sekalipun itu sangat berbahaya baik dari segi hukum, sosial maupun agama.
Begitulah para koruptor, sebelum terpilih menjadi pejabat, kalimat yang sering diucapkan “Kami berjuang untuk rakyat demi rakyat”, namun setelah menjadi pejabat terjadilah penghianatan pada rakyat. Inilah tipikal para pemimpin bangsa kita saat ini. Tipe pemimpin seperti apa yang pantas untuk negeri tercinta ini ? Tentunya pemimpin yang tanpa pamrih, pemimpin yang tak menjadikan jabatannya untuk kepentingan pribadinya, pemimpin yang peduli, punya rasa malu,rendah hati dan menghargai hidup ini. Mengutip perkataan Buya Safi’i Maarif “Andaikan ada kata pesimis dalam al-quran maka sayalah orang pertama yang pesimis melihat Indonesia, tapi karena tidak ada maka saya harus tetap optimis melihat Indonesia lebih baik” Kalimat Buya tentunya kita masih terus punya harapan terhadap bangsa kita ini. Jadikanlah Al-quran sebagai “MAKANAN” hati agar menjadi kuat untuk menjalani aktivitas memimpin bangsa ini. (*)
Khittah menerima tulisan berupa Opini (maks 700 kata), cerpen (maks 1000 kata), dan puisi. Tulisan dapat dikirim di email: pustakamuhammadiyah@gmail.com
Baru, Berita, Tarbiyah
Hal itu diungkapkan Shamsi Ali, Imam Besar Masjid New York, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Bincang Siang bersama Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Sulawesi Selatan, di Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Sabtu (17/01/2015).
Kegiatan mengangkat tema, “Tragedi Charlie Hebdo dan Posisi Islam di Benua Eropa”. Sebelum mengulas pandangan Shamsi terkait dengan Tragedi di Perancis, ia terlebih dahulu mengisahkan pengalamannya dalam mendakwahkan Islam di salah satu pusat peradaban barat. Menurutnya, masyarakat barat memiliki karakteristik yang terbuka, penuh persahabatan dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. “Dengan karakteristik seperti itu, masyarakat Barat justru lebih mudah menerima dakwah yang disampaikan secara bersahabat,” ulas putera asal Bulukumba ini.
Shamsi melanjutkan, karakteristik masyarakat Barat lainnya adalah mereka menganut Sekularisme. Tapi sekularisme yang berkembang di Eropa Barat, berbeda dengan sekularisme di Amerika Serikat. “Di eropa, mereka menganut sekularisme total. Itulah yang membuat Perancis melarang penggunaan jilbab di ruang publik. Sedangkan di Amerika, sekularisme di Amerika dimaknai negara tidak mencampuri urusan agama. Setiap warga negara berhak untuk memilih agama apa yang mereka anut. Bahkan kita dengan mudah menjumpai seorang Polwan (Polisi Wanita) yang mengenakan jilbab saat bertugas di Kota New York,” urai alumni Pondok Pesantren Darul Arqam Gombara Muhammadiyah Sulsel.
Menurut Shamsi, dakwah rahmatan lil’alamin jauh lebih efektif, dibanding dakwah dengan kekerasan. Tragedi Charlie Hebdo, justru merugikan dunia Islam. “Isu ini justru akan merugikan saudara kita di Palestina. Perancis adalah negara barat yang mendukung kemerdekaan Palestina. Tragedi ini justru bisa merubah sikap mereka,” pungkasnya.
Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah Pimpinan Universitas Muhammadiyah Makassar, serta ratusan kader dari Angkatan Muda Muhammadiyah Sulawesi Selatan. (HD/KR)





