Agenda Tajdid Muhammadiyah Abad Kedua


Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar tahun 2015 ini adalah muktamar pertama di abad kedua kehadiran Persyarikatan. Muktamar inilah yang akan menjadi tiang pancang agenda-agenda besar yang akan dilakoni oleh gerakan Islam yang diinisiasi oleh Kiai Ahmad Dahlan ini. Muktamar kali ini ibarat penyusunan road map Muhammadiyah memasuki etape perjalanan 100 tahun jilid dua.
Terkait dengan itu, Prof. Amin Abdullah pernah mengingatkan, setidaknya ada tiga isu besar yang akan menentukan sejarah peradaban dan umat beragama, termasuk di dalamnya Muhammadiyah, dalam sepuluh, dua puluh, lima puluh dan seratus tahun ke depan. Pertama, globalisasi mendorong munculnya model keagamaan baru dari golongan minoritas Muslim di berbagai negara mayoritas Kristen, baik di Eropa, Amerika, maupun Australia. Kedua, Peradaban Barat yang masih terus memimpin dunia dalam berbagai sektor kehidupan. Ketiga, gerakan dakwah dan tajdid bertemu muka dan berhadap-hadapan dengan gerakan dakwah dan jihad (Abdullah, 2010: 21).
Oleh karena itu, Amin Abdullah menyarankan agar paradigma, model, dan strategi tajdid Muhammadiyah juga harus disesuaikan dengan perkembangan terbaru wacana keislaman, baik dalam teori maupun praktik. Pembaruan tersebut meliputi pembaruan gerakan pendidikan, mengenal dengan baik dan mendalam metode dan pendekatan kontemporer terhadap studi Islam dan keislaman era klasik maupun kontemporer. Selain itu, bersikap terbuka terhadap perkembangan pengalaman dan keilmuan generasi mudanya, mengenalkan dialog antar budaya dan agama di akar rumput, serta memahami nilai-nilai lintas budaya. Tanpa melakukan hal tersebut, lanjut Amin Abdullah, maka Muhammadiyah akan mengalami kekurangan oksigen untuk menghirup dan merespon isu-isu sosial keagamaan global dan isu-isu peradaban Islam kontemporer.
Senada dengan Amin Abdullah, Haedar Nashir (dalam Muhammadiyah Abad Kedua, 2011: 77) juga menawarkan sejumlah agenda sebagai basis pemikiran bagi Muhammadiyah memasuki Abad Kedua eksistensinya. Pertama, menyusun buku risalah Islamiyah yang berisi tentang Islam dan berbagai aspeknya yang menjadi pandangan resmi Muhammadiyah. “Tanpa memiliki pandangan yang substantif dan komprehensif mengenai Islam maka akan sering terjadi tarik menarik pandangan dalam Muhammadiyah mengenai hal-hal yang fundamental tentang aspek-aspek ajaran Islam,” tulis Haedar.
Kedua, mengembangkan konsep Manhaj Tarjih mengenai tiga pendekatan dalam memahami Islam, yaitu bayani, burhani dan irfani. Pengembangan tersebut sangat diperlukan untuk memperluas cakrawala metodologis dalam pengembangan pemikiran Islam di lingkungan Muhammadiyah. Ketiga, menyusun tafsir Alquran yang komprehensif, dengan paradigma tafsir yang multiperspektif dan menggunakan berbagai alat tafsir klasik maupun kontemporer. Penyusunan tafsir Alquran karya Muhammadiyah tersebut akan menjadi rujukan dalam memahami Alquran, baik bagi anggota, maupun masyarakat luas. Keempat, memformulasikan kembali konsep masyarakat Islam yang sebenar-benarnya dalam konteks masyarakat modern atau pasca modern. Kelima, mengagendakan tajdid di bidang dakwah, organisasi, amal usaha, pengembangan kader dan anggota, ekonomi, dan berbagai model aksi gerakan agar Muhammadiyah tampil menjadi gerakan Islam yang unggul dan bergerak di garis depan dalam dinamika kehidupan umat, bangsa dan perkembangan global.
Sanggupkah Muhammadiyah menjawab dan menuntaskan tantangan tersebut? Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar setidaknya akan menjadi salah satu langkah dalam menjawab atas sejumlah tantangan di atas. (Redaksi/HD)

Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top