INFO PASANG IKLAN
"Pasang iklan harga terjangkau, Laku barangta beramalki juga". Minat, Hubungi Manajer Iklan Dhadhe 085342448624 atau PIN BB 2931CE74
Popular Posts
-
Hadisaputra, M.Si,dan Nurhikmawaty Hasbiah bersama Ketua PWM Sulsel, Dr Muh Alwi Uddin (foto:ist)
-
Opini Oleh : Nur Faizah Anshar Korupsi, sebuah kata yang tentu tak asing lagi bagi kita. Di semua pemberitaan baik media elektronik maup...
-
Aksi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Rabu, 20 Mei 2015(Foto:fb)
-
Syaharaddin Alrif, S. Sos (Foto : ist) Syaharuddin Alrif akhirnya ditetapkan sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjend) Pimpinan Pusat...
-
Logo Musykom IMM FKIP Unismuh Makassar, Khittah - Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Keguruan dan Ilm...
CB Magazine »
Editorial
»
Agenda Tajdid Muhammadiyah Abad Kedua
Agenda Tajdid Muhammadiyah Abad Kedua
Posted by CB Magazine on Sabtu, 09 Mei 2015 |
Editorial
Terkait dengan itu, Prof. Amin Abdullah pernah mengingatkan, setidaknya ada tiga isu besar yang akan menentukan sejarah peradaban dan umat beragama, termasuk di dalamnya Muhammadiyah, dalam sepuluh, dua puluh, lima puluh dan seratus tahun ke depan. Pertama, globalisasi mendorong munculnya model keagamaan baru dari golongan minoritas Muslim di berbagai negara mayoritas Kristen, baik di Eropa, Amerika, maupun Australia. Kedua, Peradaban Barat yang masih terus memimpin dunia dalam berbagai sektor kehidupan. Ketiga, gerakan dakwah dan tajdid bertemu muka dan berhadap-hadapan dengan gerakan dakwah dan jihad (Abdullah, 2010: 21).
Oleh karena itu, Amin Abdullah menyarankan agar paradigma, model,
dan strategi tajdid Muhammadiyah juga harus disesuaikan dengan perkembangan
terbaru wacana keislaman, baik dalam teori maupun praktik. Pembaruan tersebut
meliputi pembaruan gerakan pendidikan, mengenal dengan baik dan mendalam metode
dan pendekatan kontemporer terhadap studi Islam dan keislaman era klasik maupun
kontemporer. Selain itu, bersikap terbuka terhadap perkembangan pengalaman dan
keilmuan generasi mudanya, mengenalkan dialog antar budaya dan agama di akar
rumput, serta memahami nilai-nilai lintas budaya. Tanpa melakukan hal tersebut,
lanjut Amin Abdullah, maka Muhammadiyah akan mengalami kekurangan oksigen untuk
menghirup dan merespon isu-isu sosial keagamaan global dan isu-isu peradaban
Islam kontemporer.
Senada dengan Amin Abdullah, Haedar Nashir (dalam Muhammadiyah Abad Kedua, 2011: 77) juga menawarkan sejumlah agenda sebagai basis pemikiran bagi
Muhammadiyah memasuki Abad Kedua eksistensinya. Pertama, menyusun buku risalah Islamiyah yang
berisi tentang Islam dan berbagai aspeknya yang menjadi pandangan resmi
Muhammadiyah. “Tanpa memiliki pandangan yang substantif dan komprehensif
mengenai Islam maka akan sering terjadi tarik menarik pandangan dalam
Muhammadiyah mengenai hal-hal yang fundamental tentang aspek-aspek ajaran Islam,”
tulis Haedar.
Kedua, mengembangkan konsep Manhaj Tarjih mengenai tiga pendekatan
dalam memahami Islam, yaitu bayani, burhani dan irfani. Pengembangan tersebut
sangat diperlukan untuk memperluas cakrawala metodologis dalam pengembangan
pemikiran Islam di lingkungan Muhammadiyah. Ketiga, menyusun tafsir
Alquran yang komprehensif, dengan paradigma tafsir yang multiperspektif dan
menggunakan berbagai alat tafsir klasik maupun kontemporer. Penyusunan tafsir
Alquran karya Muhammadiyah tersebut akan menjadi rujukan dalam memahami Alquran,
baik bagi anggota, maupun masyarakat luas. Keempat, memformulasikan kembali konsep
masyarakat Islam yang sebenar-benarnya dalam konteks masyarakat modern atau pasca
modern. Kelima, mengagendakan tajdid di bidang dakwah, organisasi, amal
usaha, pengembangan kader dan anggota, ekonomi, dan berbagai model aksi gerakan
agar Muhammadiyah tampil menjadi gerakan Islam yang unggul dan bergerak di
garis depan dalam dinamika kehidupan umat, bangsa dan perkembangan global.
Sanggupkah
Muhammadiyah menjawab dan menuntaskan tantangan tersebut? Muktamar Muhammadiyah
ke-47 di Makassar setidaknya akan menjadi salah satu langkah dalam menjawab
atas sejumlah tantangan di atas. (Redaksi/HD)

Tidak ada komentar: