INFO PASANG IKLAN
"Pasang iklan harga terjangkau, Laku barangta beramalki juga". Minat, Hubungi Manajer Iklan Dhadhe 085342448624 atau PIN BB 2931CE74
Popular Posts
-
Hadisaputra, M.Si,dan Nurhikmawaty Hasbiah bersama Ketua PWM Sulsel, Dr Muh Alwi Uddin (foto:ist)
-
Opini Oleh : Nur Faizah Anshar Korupsi, sebuah kata yang tentu tak asing lagi bagi kita. Di semua pemberitaan baik media elektronik maup...
-
Aksi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Rabu, 20 Mei 2015(Foto:fb)
-
Syaharaddin Alrif, S. Sos (Foto : ist) Syaharuddin Alrif akhirnya ditetapkan sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjend) Pimpinan Pusat...
-
Logo Musykom IMM FKIP Unismuh Makassar, Khittah - Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Keguruan dan Ilm...
CB Magazine »
Berita
»
Wukuf 3 Oktober, Muhammadiyah Lebaran 4 Oktober
Wukuf 3 Oktober, Muhammadiyah Lebaran 4 Oktober
Posted by CB Magazine on Selasa, 30 September 2014 |
Berita
![]() |
| Suasana Sholat Idul Adha di Pusdam beberapa tahun yang lalu |
Makassar-Pemerintah Arab Saudi telah menetapkan
waktu pelaksanaan Wukuf 9 Zulhijjah 1435 Hijriyah jatuh pada hari Jumat 3
Oktober 2014. Wukuf adalah puncak atau inti dari pelaksanaan ibadah haji yang
dilaksanakan di Padang Arafah. Wukuf juga dijadikan sebagi standar penetapan
waktu idul adha di negara-negara lain di satu hari setelah wukuf.
Guru
Besar UIN Alauddin Makassar, Prof Dr. Ali Parman menjelaskan bahwa berdasarkan
hitungan hisab (wujudul hilal), baik itu di Makassar, Jawa maupun di Mekkah tinggi
hilal datanya sama dengan hasil rukyat yang di Arab Saudi. “Hasil
perhitungannya, tanggal 24 september hilal sudah di atas ufuk pada waktu
matahari terbenam, sehingga dapat disimpulakn bahwa 1 Dzulhijjah jatuh pada
hari berikutnya di tanggal 25 september,” tandasnya.
Prof.
Ali Parman melanjutkan, dengan menggunakan metode rukyat, di Indonesia hilal
tidak bisa dilihat pada pemantauan pada tanggal 24 September, karena tinggi hilal yang belum
sampai kriteria dua derajat. Sehingga bulan Dzulqaidah digenapkan sampai
tanggal 25 September. Oleh karena itu maka secara kesimpulan dari metode rukyat
ini menetapkan bahwa 1 Dzulhijjah nanti jatuh pada tanggal 26 september 2014
atau 10 Dzulhijjah nanti jatuh pada tanggal 05 oktober 2014.
“Mekah
sendiri juga menggunakan metode rukyat, dengan kriteria yang sama, akan tetapi tahun
ini bulan Dzulqaidah tidak diistiqmalkan
sehingga penetapan 01 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 25 september. Wukuf tanggal 09 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 3
oktober dan sehingga Idul Adha jatuh pada keesokan harinya, 4 Oktober 2014. “Bagi
saya, ini indikasi bahwa metode hisab juga sudah mulai digunakan di Arab Saudi,”
Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar ini.
“Disunnahkan bagi kita yang tidak sedang menunaikan
ibadah haji untuk berpuasa arafah pada hari wukuf tanggal 9 Dzulhijjah,
kemudian lebaran pada 10 Dzulhijjah serta selanjutnya masuk pada hari Tasyriq pada tanggal 11-13 Dzulhijjah. Harusnya
pemerintah menganulir pengumumannya menjadi hari Sabtu, karena wukuf yang di
hari jum’at,”.
Ketua Majelis Tarjih Pimpinan Wilayah
Muhammadiyah Sulsel, KH. Jayatun menegaskan bahwa penetapan waktu wukuf di
Saudi ini sesuai dengan hasil hisab wujudul hilal yang ditetapkan oleh
Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Hasil hisab tersebut, lanjut Jayatun, menunjukkan
bahwa ijtimak jelang Zulhijjah jatuh
pada hari Rabu, 24 September 2014 pukul 13: 15: 45 WIB. Ketinggian bulan pada
saat itu adalah (
dan
.
“Ini berarti hilal telah wujud dan 1
Zulhijjah telah masuk pada hari Rabu, 24 September 2014 petang. Sedangkan
tanggal 10 Zulhijjah, waktu pelaksanaan Idul Adha, telah masuk pada maghrib 3
Oktober 2014, dan pada tanggal 4 Oktober 2014 pagi masyarakat disilakan untuk beridul
adha,” tandas Direktur Pendidikan Ulama
Tarjih Unismuh Makassar ini.
KH. Jayatun menjelaskan bahwa selama ini
Muhammadiyah menentukan waktu awal Ramadan, Syawal (Idul Fitri) dan Idul Adha menggunakan
metode hisab. Metode hisab ini berlandaskan dari Quran Surah Yunus: 5, dan
Yasin: 38—40. Penggunaan
metode hisab juga berlandaskan pada hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh
Ibnu Umar, “Shumuli ru’yatihii waghfiru
li ru’yatihii”. Sayangnya hadits
ini selalu dipotong, sehingga seakan-akan hanya memerintahkan metode rukyat
untuk digunakan dalam menentukan awal Ramadan dan Idul Fitri. Padahal, lanjutnya,
Rasulullah juga menambahkan di hadis tersebut jika langit sedang berkabut atau
cuaca tidak mengizinkan, maka berhitunglah. Di hadist versi Ibnu Umar, “Faqdhuru” dalam bahasa Arab juga berarti berhitung.
Perhitungan yang dimaksud dilakukan terhadap umur bulan Syaban.
Terkait perbedaan Hari Raya Idul Adha ini,
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel, Dr. KH. Alwi Uddin, berharap kaum
muslimin melaksanakan Idul Adha dengan penuh keyakinan, mengunjungi
lapangan-lapangan penyelenggaraan Shalat Idul Adha seperti di Lapangan Awwalul Islam,
Kampus Unismuh Makassar, dan halaman Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi
Selatan. “Soal perbedan itu kan sudah biasa. Itu juga pembelajaran bagi umat
yang punya kebebasan untuk mengikuti keyakinannya dan mengikut kepada siapa pun
tanpa saling menghujat dan mencela,” ungkapnya.


Tidak ada komentar: