INFO PASANG IKLAN
"Pasang iklan harga terjangkau, Laku barangta beramalki juga". Minat, Hubungi Manajer Iklan Dhadhe 085342448624 atau PIN BB 2931CE74
Popular Posts
-
Hadisaputra, M.Si,dan Nurhikmawaty Hasbiah bersama Ketua PWM Sulsel, Dr Muh Alwi Uddin (foto:ist)
-
Opini Oleh : Nur Faizah Anshar Korupsi, sebuah kata yang tentu tak asing lagi bagi kita. Di semua pemberitaan baik media elektronik maup...
-
Aksi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Rabu, 20 Mei 2015(Foto:fb)
-
Syaharaddin Alrif, S. Sos (Foto : ist) Syaharuddin Alrif akhirnya ditetapkan sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjend) Pimpinan Pusat...
-
Logo Musykom IMM FKIP Unismuh Makassar, Khittah - Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Keguruan dan Ilm...
CB Magazine »
Sastra
»
Bangga Berbangsa atau Berbangsa Bangsat
Bangga Berbangsa atau Berbangsa Bangsat
Posted by CB Magazine on Selasa, 30 September 2014 |
Sastra
(Dibacakan Saat Deklarasi Gerakat Anti Golput Pemilihan Legislatif 2014, PC IMM MAKASSAR)
Oleh : Esye Yusuf Lapimen
![]() |
| Esye Yusuf Lapimen |
Salam hormat saya haturkan bersama surat ini, mudah-mudahan pula kehadiran suratku ini tidak mengganggumu, kawan. Sebab, saya hanya ingin bercerita soal keadaan.
Bukan keadaanku, keadaan
rumahku, keadaan keluargaku, sebab saya rasa itu tidak penting. Ada hal yang
sangat penting dari itu, yaitu soal keadaan bangsa ini, kawan!
Kamu tahu kawan, jelang
pemilihan legislatilf mendatang. Saya sering kali mendengar beberapa orang yang
sering menyebut bangsa kita dengan sebutan bangsat. Jujur, saya risih soal itu.
Saya takut kalau itu semakin sering disebut dan betul-betul mewujudkan bangsa
ini menjadi bangsa yang bangsat. Olehnya saya mengirimkan surat ini. Surat yang
hanya sepanjang kertas, tetapi luasnya melebihi bangsa kita.
Kawan, apakah kamu pernah
mendengar kata itu juga? Sungguh kawan! Kata itu mengganggu bukan hanya dari
ujung kaki ke ujung kepala. Tetapi dari palung lautan hingga ke puncak gunung.
Saya tidak mau kebangsaanku menjelma kebangsatan.
Tetapi kawan, mereka yang
berkata begitu, juga mempunyai alasan. Waktu itu, saya mendengar dia bercakap
dengan rekannya di warung kopi dekat rumahku. Katanya, bangsa ini telah dihuni
oleh orang-orang yang tidak mengerti arti berbangsa, melainkan hanya mengerti
arti berbangsat. Mereka mengaku ingin berbuat untuk bangsa, hingga mendapatkan
gelar bangsawan, tetapi perbuatannya sungguh bangsat.
Mereka juga berkata begini,
jelang pemilihan legislatif yang akan datang. Dia tidak mau memilih, lalu
menyebut dirinya golput alias golongan putih. Katanya, hampir sebagian besar
yang akan dipilih adalah para bangsawan yang bangsat. Katanya pula, jika dia
memilih maka sama halnya dia menyumbang generasi pemimpin bangsat. Tetapi, saya
tidak nama orang itu, saya hanya dengarnya berbicara dan saya canggung
berkenalan saat itu.
Kawan, saya yakin kamu tidak
berpikiran seperti orang itu. Betul kan? Saya takut jika kamu telah telah ikut
terpengaruh dengannya. Sebab, kamu tidak akan mendengar harapanku dalam surat
ini. Harapan yang kujemput dari lubuk hati terdalam, kebentuk dengan gemulai
jemariku dan kujelma menjadi kata. Harapan yang ingin melihat bangsa ini dengan
bangga.
Olehnya itu, kawan! Marilah
mewujudkan kebanggaan bangsa. Ayolah, kita memilih pemimpin yang tidak
kebangsatan. Ayolah, kita memilih pemimpin kebanggaan. Minimal memilih yang
baik diantara pilihan yang buruk. Apapun pilihannya kawan, itu sangat
menentukan perjalanan bangsa kita.
Tetapi, bukan berarti saya
ingin memintamu untuk ikut memilih pilihanku. Bukan, kawan! Tetaplah memilih
pilihanmu, kawan! Entah merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Saya
hanya memintamu untuk memilih menjadi bangsa yang bangga atau menjadi bangsa
yang bangsat.
Sekian dulu suratku ini, kawan!
Mohon maaf jikalau ada kataku yang khilaf. Semoga segala aktivitas kita
membuahkan kesuksesan.


Tidak ada komentar: