Bangga Berbangsa atau Berbangsa Bangsat

(Dibacakan Saat Deklarasi Gerakat Anti Golput Pemilihan Legislatif 2014, PC IMM MAKASSAR)
Oleh : Esye Yusuf Lapimen
Esye Yusuf Lapimen

Salam hormat saya haturkan bersama surat ini, mudah-mudahan pula kehadiran suratku ini tidak mengganggumu, kawan. Sebab, saya hanya ingin bercerita soal keadaan.

Bukan keadaanku, keadaan rumahku, keadaan keluargaku, sebab saya rasa itu tidak penting. Ada hal yang sangat penting dari itu, yaitu soal keadaan bangsa ini, kawan!

Kamu tahu kawan, jelang pemilihan legislatilf mendatang. Saya sering kali mendengar beberapa orang yang sering menyebut bangsa kita dengan sebutan bangsat. Jujur, saya risih soal itu. Saya takut kalau itu semakin sering disebut dan betul-betul mewujudkan bangsa ini menjadi bangsa yang bangsat. Olehnya saya mengirimkan surat ini. Surat yang hanya sepanjang kertas, tetapi luasnya melebihi bangsa kita.

Kawan, apakah kamu pernah mendengar kata itu juga? Sungguh kawan! Kata itu mengganggu bukan hanya dari ujung kaki ke ujung kepala. Tetapi dari palung lautan hingga ke puncak gunung. Saya tidak mau kebangsaanku menjelma kebangsatan.
Tetapi kawan, mereka yang berkata begitu, juga mempunyai alasan. Waktu itu, saya mendengar dia bercakap dengan rekannya di warung kopi dekat rumahku. Katanya, bangsa ini telah dihuni oleh orang-orang yang tidak mengerti arti berbangsa, melainkan hanya mengerti arti berbangsat. Mereka mengaku ingin berbuat untuk bangsa, hingga mendapatkan gelar bangsawan, tetapi perbuatannya sungguh bangsat.

Mereka juga berkata begini, jelang pemilihan legislatif yang akan datang. Dia tidak mau memilih, lalu menyebut dirinya golput alias golongan putih. Katanya, hampir sebagian besar yang akan dipilih adalah para bangsawan yang bangsat. Katanya pula, jika dia memilih maka sama halnya dia menyumbang generasi pemimpin bangsat. Tetapi, saya tidak nama orang itu, saya hanya dengarnya berbicara dan saya canggung berkenalan saat itu.

Kawan, saya yakin kamu tidak berpikiran seperti orang itu. Betul kan? Saya takut jika kamu telah telah ikut terpengaruh dengannya. Sebab, kamu tidak akan mendengar harapanku dalam surat ini. Harapan yang kujemput dari lubuk hati terdalam, kebentuk dengan gemulai jemariku dan kujelma menjadi kata. Harapan yang ingin melihat bangsa ini dengan bangga.

Olehnya itu, kawan! Marilah mewujudkan kebanggaan bangsa. Ayolah, kita memilih pemimpin yang tidak kebangsatan. Ayolah, kita memilih pemimpin kebanggaan. Minimal memilih yang baik diantara pilihan yang buruk. Apapun pilihannya kawan, itu sangat menentukan perjalanan bangsa kita.

Tetapi, bukan berarti saya ingin memintamu untuk ikut memilih pilihanku. Bukan, kawan! Tetaplah memilih pilihanmu, kawan! Entah merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Saya hanya memintamu untuk memilih menjadi bangsa yang bangga atau menjadi bangsa yang bangsat.

Sekian dulu suratku ini, kawan! Mohon maaf jikalau ada kataku yang khilaf. Semoga segala aktivitas kita membuahkan kesuksesan.

Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top